[Cerita Horor] KKN Berhantu Part 13

KKN Berhantu Part 13

Yang belum baca cerita awalnya bisa baca di

Hari / Malam 13

“Vin bangun” Kata Irfan sambil menendang gw pelan

Gw terbangun dan melihat irfan berdiri disamping gw, saat gw hanya terdiam karena hampir depresi, apalagi tadi malam sibayangan menunjukan dirinya. Gw ngak tahu apa yang bakal terjadi kalau pulang ngak dianter bapak pintar, terlebih lagi gw berpikir tentang jin jin didesa ini, kenapa mereka harus muncul satu persatu, kenapa ngak 7 jin sekaligus, tapi meski begitu ane bersyukur mereka ngak menghantui sekaligus.

“Kenapa sih loe?” Tanya Irfan

Gw menutup mata dengan lengan gw dan mulai membalas omongan Irfan

“Bisa gila lama-lama gw disini fan, pingin cepet balik ke kota” Kata gw

“Gara-gara sibayangan loe depresi ??” Tanya Irfan

“Ngeri si merah kali Vin daripada si bayangan” Lanjut Irfan

“Tetap aja mereka jin” Kata gw

“Halah… ngak usah dipikir, bangun cepet, kita mandi” Ajak Irfan

“Bantu gw nyari potensi proker yang lain, bawa buku pedoman sekalian” Kata Irfan

“Kalau proker penyuluhan harus minggu depan, makin lama kita disini” Lanjut Irfan

Mendengar Irfan berbicara seperti itu gw langsung bangun dari posisi tidur gw, ruang tengah udah berkumpul anak-anak KKN kecuali Selvi, Siska dan Giska. Mereka sibuk ngerjain laporan KKN juga agenda KKN. Gw pun pergi mandi bareng Irfan, Setelah selesai mandi, gw sarapan dan merokok di luar sambil mikir proker yang sekiranya bisa cepet dilaksanakan, proker fisik irfan sudah jadi, yaitu bak sampah, jadi gw nyari proker yang lebih kearah ke peningkatan SDM. Dalam keadaan membaca-baca buku panduan, Eni datang menghampiri sendirian.

“Pagi kak” Kata Eni tersenyum ke arah gw dan Irfan dan mulai duduk

Dengan PDnya Eni duduk berhadapan dengan gw dan berusaha kembali tersenyum ke arah gw, saat itu gw ngak ngeluarin ekspresi apa-apa dan hanya diam menatap Eni, karena gw ngak menjawab sapaan Eni, Eni langsung salting dan mulai bermain kuku sambil nunduk. Gw paham Eni sedang mencari tempat bersandar karena sudah tahu juga tentang seluk beluk desa ini, dan juga lokasi jin-jinnnya, selain itu, mungkin dia sudah merasa nyaman bersama irfan, karena sudah 2 kali dia dibuat tenang oleh Irfan. Tapi gw cuek aja, kalau didesa ini ngak ada yang namanya bersandar, pentingkan diri sendiri dulu. Itu yang gw pikirkan saat itu

“Ada apa ?” Tanya gw sambil menatap Eni tanpa ekspresi

Eni hanya diam dan tetap bermain kuku sambil nunduk karena memang udah salting. Hingga akhirnya Irfan yang mengajak obrol Eni

“Prokermu hari ini kan dek ?” Tanya Irfan

“Enggak kak, besok” Jawab Eni

“Itu proker kedua ?” Tanya Irfan lagi

“Iya dong kak, habis itu proker individu saya selesai” Jawab Eni sambil senyum ke Irfan

“Waaaaah Enak dong, nanti abis itu mau ikut kita ngak dek?” Kata Irfan

“Kemana kak ?” Tanya Eni

Irfan pun menjelaskan tentang rencana pergi dari desa ini setelah proker individu ke 2 selesai, Eni mendengarkan dengan seksama dan juga kadang bertanya masalah proker kelompok, irfan pun juga menjelaskan lagi dengan panjang lebar

“Ikut saya kak ikut“ Kata Eni sambil mengangkat 2 jempolnya kearah irfan sambil memasang wajah imut

Gw hanya diam melihat Eni bertingkah seperti itu dan keluarlah celetukan gw lagi

“Dasar cewek” Celetuk gw sambil geleng-geleng kepala

Lagi-lagi Eni salting mendengar celetukkan gw. Tiba-tiba Irfan mencolek pinggang gw dan mengigit bibirnya juga mengkedipkan matanya kearah gw, seolah-olah gw sedang lihat bencong disamping gw.

“Apaan sih loe ?!, risih gw” Kata gw

“Kan loe tadi bilang dasar cewek, gw ngerasa jadi cewek juga nih” Kata Irfan sambil bergaya memberi kecupan
Irfan terus menggoda gw, Eni hanya tersenyum bahkan menahan tawa melihat tingkah laku Irfan. Gw paham, semua yang dilakukan Irfan hanya untuk membuat Eni tersenyum karena udah salting karena gw. Candaan pun selesai, irfan mengajak gw untuk mencari potensi prokernya.

“Yuk Keliling aja Vin, sambil bawa buku pedoman” Kata Irfan

Gw dan irfan berdiri dan bersiap pergi keliling desa untuk mencari proker

“Jangan ikut” Kata gw ke Eni sambil menatapnya

“Iya kak” Kata Eni berusaha tersenyum ke gw

“Eh ayo ikut aja dek” Kata Irfan mengajak Eni

“Ngak usah kak, aku mau ngerjain laporan proker sama agenda KKN aja” Jawab Eni tersenyum

Sebelum berangkat, gw melihat hutan menjadi indah banget, dimana matahari menyinari daerah hutan hingga terlihat seperti lukisan, suara burung terdengar saling bersahutan, apalagi ditambah suara air yang mengalir dari belakang rumah membuat suasana tambah nyaman, tapi kalau malam, jangan ditanya lagi, sama sekali ngak ada indah-indahnya, suara jangkrik dan suara pohon tertiup angin cukup membuat nyali menjadi ciut, apalagi ditambah suara aliran air membuat suasan tambah menyeramkan.

Gw dan Irfan berjalan kearah desa, udara disini memang menyegarkan, mungkin cocok buat yang perokok, kalau dikota kita merokok + ditambah asap dari kendaraan, ngak bisa bayangin gw. Tak lama irfan berkomentar tentang jin yang dilihat Giska tadi malam

“Vin, loe nyadar ngak sih kalau jin disini ngehantuinya bergantian ?, seolah udah direncanakan?”

“Mana gw paham, toh dah dibilang mereka punya wilayah-wilayah sendiri” Kata gw

“Ya yang penting kita ngak usah ketempat yang dikasih tahu bapak pintar”

“Untung aja kita belum ke tempat sendang, Cuma lihat doank kan”

“Ngak tahu dah gw kalau sampai jin sendang sampai muncul, jendralnya aja segan sama dia”

“Apalagi sama kita manusia, kalau ditampar bisa mental jauh” Lanjut gw

Obrolan tentang jin berlanjut hingga akhirnya kita melihat Selvi, Siska dan Giska sedang mandi dan main air ditempat anak-anak penduduk sini bermain air. Kita pun samperin mereka yang memang sedang asik-asiknya siram-siraman air. Yang gw kecewa, mereka mandi dengan berpakaian lengkap, tapi yang bikin mata ngak bisa lepas dari pandangan gw yaitu bodynya Selvi yang terbentuk karena air dibadannya, selain itu, terlihat juga pakaian dalamnya karena transparan oleh air. Body siska dan giska juga sebenarnya terbentuk tapi percuma kalau gw pandang, buang-buang waktu.

“Ayo kak ikut sini” Ajak siska ke Irfan

“Jangan mikir mesum” Lanjut Siska dengan tatapan tajamnya ke gw

“Apaan sih loe ?!” Kata gw dengan agak tinggi dan bersiap untuk pergi karena sakit hati

“KAKAK IKYUUT” Teriak Irfan sambil melepas bajunya dan berlari kearah mereka

Gw hanya diam melihat Irfan berlari kearah mereka, gw batalin pergi dari situ. Gw lihat Irfan berlari kearah Selvi sambil merentangkan kedua tangannya seolah-olah akan memeluk Selvi, gw pertama yakin kalau Selvi akan menerima pelukan Irfan, tapi gw salah

“DUG!!” Suara terdengar dari arah sungai

Ternyata irfan ditendang Selvi, dia langsung memegang perutnya yang sudah terlanjur ditendang Selvi

“Kok malah ditendang dek?” Kata Irfan masih memeggang perutnya

“Reflek kak, maaf” Kata Selvi dengan entengnya sambil mulai dekatin Irfan dan mengelus-elus punggungnya Irfan

Bukannya khawatir, suasana malah jadi tawa, gw hanya diam sambil menyaksikan kejadian tersebut, setelah melihat Selvi, gw jadi paham lebih paham karakter Selvi saat itu. Mereka pun melanjutkan bermain air bersama, mata gw tetap tertuju kearah Selvi, sempat saat itu gw bisa melupakan betapa ngerinya desa ini, tapi hanya sementara.

Siang hari datang, mereka menyudahi bermain airnya, gw heran mereka bisa tahan bermain air beberapa jam, seperti anak-anak kecil disini. Sebelum pulang, beberapa anak kecil datang kesungai untuk bermain air juga, dan seperti biasa mereka mandi tanpa busana, ngak cewek ngak cowok sama aja, padahal umur mereka ada yang SD dan juga SMP, gw yakin otak mereka belum diracuni film porno seperti anak-anak dikota, dimana hanya menggunakan HP, situs porno bisa diakses, bahkan ngak sedikit warnet yang tak melarang anak-anak membuka website porno. Setelah melihat mereka, gw tiba-tiba kepikiran proker tentang kreatifitas anak, gw pun menjelaskan ke Irfan, dan selvi menyetujui karena memang belum ada yang mengambil proker tersebut, barang bekas bisa dijadikan bahan kreatifitas anak, atau mungkin kayu-kayu bekas juga bisa, dan juga kebetulan si Siska pintar dalam kreatifitas, seperti sebelumnya gw bilang, siska memang cocok dijadiin istri, tapi yang kurang adalah bodynya. Setelah berbagai pertimbangan Irfan pun menyetujui proker tersebut dibantu Siska.
Karena sudah fix masalah proker yang diambil, kita pun pergi kerumah lagi, dijalan Irfan mencoba menyinggung masalah jin yang dilihat Giska

“Dek, kamu katanya lihat jin ya ?” Tanya Irfan

Saat itu Selvi hanya diam seperti ngak mau dengar tentang jin, kalau Siska memang sudah paham masalah ada jin disini. Awalnya Giska tak mau menjawab pertanyaan dari irfan, dan juga ngak mempermasalahkannya, tapi saat itu Giska yang membuka obrolan lagi

“Iya kak, dia pendek dan kayak bayangan, ada bayangan tapi ngak ada orangnya” Kata Giska

“Pas mau dilihat dari dekat, bayangan itu pergi tapi cepat banget kak” Lanjut Giska

“Wah pemberani juga ya kamu dek?” Tanya Irfan ke Giska

“Enggak juga kak, kalau diganggu juga lari kok” Jawab Siska

Mendengar Giska berbicara seperti itu, gw langsung mengira jika yang dilihat itu si bayangan bukan sipendek yang asli, Tapi namanya juga menebak, karena saat itu gw memang belum tau rupa sipendek seperti apa. Diperjalanan pulang kami bertemu sibapak pintar dan hanya menyapa, sebenarnya gw pingin deketin tapi tangan gw dipegang Irfan, mungkin sungkan kalau nemui dia tiap hari dan hanya membahas jin terus. Dan akhirnya kita lanjutkan perjalanan pulang ke rumah. Sampai dirumah Irfan langsung membuat proposal dibantu Selvi, gw pergi keteras rumah untuk makan siang yang baru saja selesai dibuat Siska, dan jangan ditanya lagi, sudah pasti gw merokok setelah itu. Rumah ini kalau siang memang agak berisik karena genset dinyalakan untuk mengisi baterai HP dan keperluan lain yang menggunakan listrik
Hampir 2 jam gw diteras sendirian, gw pun masuk rumah dan melihat mereka sibuk dengan proposal Irfan, ditengah kesibukan mereka, gw samperin mereka dan berdiri dekat Irfan, saat itu dirumah hanya ada para wanita kecuali Vina, karena sudah pasti akan ikut Putra mengawasi proker utama, dan juga mungkin membantu Anton dan putra tentang proker individu mereka.

“Eh dek, tahu ngak kalau didesa ini banyak setannya ?” Kata gw ke mereka

Setelah gw ngomong seperti itu, sama sekali ngak ada yang merespon omongan gw dan hanya menatap gw, karena bête, gw pergi kekamar dan memilih bermain HP sambil ngerokok ditambah kopi. Tak terasa magrib datang, gw keluar kamar, laporan Irfan sudah selesai dari tadi, dia asik mengobrol dengan yang lain, irfan pun mengajak gw mandi, gw setuju untuk mandi meski waktu sudah magrib. Setelah selesai mandi, makam malam sudah tersedia, gw tanpa ragu makan makanan yang sudah disiapkan, Anton, Putra, Vina kembali dari kegiatannya. Mereka langsung makan dan setelah itu mandi, yang paling bikin gw gregetan saat itu, Vina pergi mandi bareng Putra dan Anton. Ngak kebayang gw ngapain aja mereka nanti dikamar mandi terbuka itu. Setelah mereka bertiga pergi gw mencoba bertanya ke Selvi

“Mereka bakal mandi bertiga?” Tanya gw

“Ngak usah mikir macam-macam ke Vina, Anton itu gay” Kata Selvi pelan

“Tahu darimana Anton gay ?, kalau Cuma pura-pura gimana ?” Tanya gw lagi

“Awalnya saya mikirnya gitu, tapi waktu kepergok ciuman sama cowok saya jadi yakin” Kata Selvi

“Makanya saya kalau meluk-meluk ngak risih sama dia”

“Jangan ngomong ke Anton, bisa saya nanti yang kena masalah” Lanjut Selvi

“Kamu juga pernah mandi sama Anton dek ?” Tanya Irfan ke Selvi

“Udah ngak usah bahas lagi kak” Kata Selvi ke Irfan

Mendengar hal itu dan Irfan hanya bisa diam, dan tak melanjutkan pertanyaan ke Selvi, Setelah itu Irfan terus menatap gw sambil nyengir dan menaikan alisnya berulang kali. Tapi gw cuekin aja

Malam pun dating, mereka semua pergi tidur dikamar masing-masing dan menyisakan gw dan Irfan diteras rumah, suasana kembali mengerikan, genset sudah mati sebelum magrib, hanya meyisakan petromax dirumah ini, entah suasana ini cair karena candaan Irfan

“Gw kasihan sama putra Vin” Kata Irfan mencoba menahan tawa

“Kenapa ?” Tanya gw ikut tersenyum karena melihat irfan yang hampir tertawa

“Dia tidur bareng Anton” Kata Irfan menahan tawa sampai geleng-geleng kepala

Gw langsung paham apa yang dimaksud Irfan hanya melalui kalimat tersebut, gw juga mencoba menahan tawa karena sudah malam, suasana hening jika inget omongan Irfan tentang putra malah bikin mau ketawa.

Tak lama kita berdua berdua bersiap untuk tidur, petromax dari dulu memang gw taruh dipojokan kamar karena takut ketendang saat tidur dan bisa menimbulkan kebakaran. Kita pun melanjutkan obrolan tentang putra dan terus menahan tawa terus, hingga akhrinya tawa kita menghilang setelah melihat bayangan kecil lewat dan berdiri ditembok rumah, bayang tersebut jelas banget karena cahaya dari petromax, awalnya gw kira itu bayangan siIrfan atau gw. Entah kenapa bulu kuduk gw berdiri mengingat sibayangan tadi malam

“Fan itu bayangan loe ?” Tanya gw

“Gw kira malah bayangan loe Vin” Jawab Irfan

Tak lama bayangan tersebut meninggikan badannya hingga hampir mencapai plafon rumah, gw dan Irfan hanya bisa terdiam melihat kejadian itu, dengan cepat gw balikkan badan menarik selimut hingga menutupi wajah gw. Gw coba menenangkan diri dari pada gw shock dan depresi lagi, gw tarik nafas panjang berulang-ulang meski jantung berdetak dengan keras. Setelah mulai bisa tenang gw mencoba melihat kearah sibayangaan, dengan cepat gw bangun dari posisi tidur ke posisi duduk untuk melihat kearah sibayangan dan ternyata sudah hilang, gw merasa lega saat.

“Udah hilang Fan” Kata gw kearah Irfan yang masih berselimut sama seperti gw

Irfan membuka selimut sedikit dan menyisakan wajahnya

“Coba loe perhatikan plafon” Kata Irfan

Mendengar hal itu detak jantung gw kembali berpacu, dengan cepat gw arahkan pandangan mata gw kearah plafon, tapi ternyata ngak ada apa-apa

“Ngak ada apa-apa njing, bikin takut aja loe tai!” Kata gw berkata kasat dengan pelan karena merasa sudah dipermainkan Irfan

“Loe tunggu aja Vin, bentar lagi tuh, 2 kali gw lihat sebelum gw nutup muka” Kata Irfan membuka selimutnya hingga dadanya

Entah kenapa saat itu gw beneran melihat kearah plafon dengan rasa was was + sedikit penasaran. 1 menit kira-kira saat itu gw menunggu. Dan tiba-tiba wajah si merah yang mengerikan muncul dari plafon, matanya melihat kearah sekitar kamar, dan berhenti menatap gw dan tersenyum tanpa mengeluarkan suara apapun, rahangnya hampir jatuh karena senyumannya. Badan gw ngak bisa bergerak sama sekali, dari atas sampai bawah rasanya lemas, hingga badan gw terjatuh dengan sendirinya kearah kasur, terlihat wajahnya bergerak lagi hingga saat ditengah kamar, dan tiba-tiba matanya jatuh tepat disamping gw, badan simerah pun muncul dari atas plafon dan menuju kearah matanya. Terlihat jelas tubuh simerah, melayang kearah matanya. Melihat hal itu Irfan langsung bangun dari tidur dan pergi keluar kamar, gw saat itu benar-benar pasrah karena ngak bisa berbuat apa-apa, air mata gw keluar dengan sendiri, karena simerah sudah dekat dengan posisi tidur gw, bau busuk si merah sudah tercium, matanya tak berhenti menatap kearah gw. Tak lama ada yang menarik kaki gw hingga badan gw berada di ruang tengah, selang beberapa menit teriakan terdengar dari kamar sebelah gw, yaitu kamar Selvi, mendengar hal tersebut dengan cepat Irfan berlari kearah kamar. Gw benar-benar ngak bergerak karena lemas akibat shock kedua kalinya selama didesa ini, gw hanya bisa menatap kamar Selvi. Siska keluar kamar bersama Irfan sambil menangis dan terus memeluk Irfan.

Mendengar teriakan, kamar yang lain juga terbangun, mereka langsung berkumpul untuk melihat apa yang terjadi. Tak lama Vina pun teriak setelah melihat kamar Selvi. Akhirnya Irfan menutup kamar Selvi. Vina terus mendekap ke putra sambil menutup matanya, saat agak tenang, gw mencoba bangun dan bersender di tembok ruang tengah. Mereka semua berkumpul diruang tengah untuk membahas apa yang terjadi, saat itu Siska bercerita kalau melihat hantu berjubah merah dengan wajah berantakan, dan bau busuk yang menusuk hidung, dia bercerita kalau simerah lewat tepat depannya, dia terbangun karena bau busuk si merah, dan yang mengherankan, Selvi sama sekali ngak mencium bau dan melihat si Merah. Vina pun ikut bercerita jika melihat simerah juga sedang berdiri diatas lemari, jadi dia hanya melihat badan si merah. 
Sedang dalam kondisi berkumpul, dari salah satu kamar terdengar banyak suara benda terbanting, kita semua hening saat itu dan suara benda terus berdatangan dari salah satu kamar dirumah itu. Setelah beberapa menit, suara tersebut hilang, Irfan mengajak Anton untuk mengecek arah suara. Tak lama Irfan dan Anton kembali keruang tengah dan bercerita jika kamar Anton sudah dalam keadaan berantakan. Setelah mengetahui itu, Anton, Putra, Selvi, Eni & Giska pergi kekamar Anton untuk membereskan kamar Anton. Tak berhenti disitu, Eni berlari kearah Irfan dan langsung merangkul tangan Irfan.

“Kenapa dek?” Tanya Irfan

Eni makin erat memeluk tangan Irfan dan terus mengusap air matanya sambil terisak, Melihat itu Eni langsung disuruh duduk disamping gw, tangan Eni langsung memegang baju gw karena takut, gw diam aja dan berusaha agar badan gw bisa tenang lagi. Tak lama Irfan datang lagi kearah gw dan Eni.

“Merokok didepan yuk Vin” Ajak Irfan

“Sini aja fan, diluar malah tambah ngeri” Kata gw menolak ajakan Irfan

“Udah diluar aja Vin, percaya gw” Ajak Irfan lagi

Irfan langsung menopang gw untuk pergi kearah karena badan masih agak lemas, Eni, Siska dan Vina langsung ikut keteras rumah bareng gw dan Irfan. Setelah itu Irfan membakarkan rokok untuk gw. Dan mulai bercerita

“Simerah ada didapur, takutnya kalian bisa lihat simerah dari ruang tengah” Kata Irfan sambil menghisap rokok

Mendengar hal itu, para wanita hanya diam, gw lanjutkan ngerokok sambil mencoba menenangkan diri gw. Takutnya gw bisa gila kalau terus kepikiran tentang kejadian yang baru gw alami, sebisa mungkin gw mensugesti diri gw sendiri agar bisa tenang.

“Beneran Vin, si merah bisa milih ke siapa dia pingin nunjukin diri” Kata Irfan

“Diam dulu fan, gw lagi berusaha tenang nih, lemes badan gw” Jawab gw

Keheningan terjadi lagi, Eni tetap mengusap air matanya terus, Siska hanya diam dan menyandarkan kepalanya di tembok, Vina sedang mencoba menahan diri agar tidak menangis dengan mengoyang-goyangkan badannya dan kadang terdiam dan nunduk. Tak berselang lama, gw bisa merasa tenang dan ngajak Irfan untuk tidur agar bisa tenang

“Fan ayo tidur” Ajak gw

Lagi-lagi Eni mencengkram tangan Irfan, seolah-olah berkata jangan pergi. Melihat hal itu gw pergi meninggalkan mereka, didepan pintu masuk gw terdiam karena melihat sosok simerah lagi berjalan dilorong kamar menuju ruang tengah, kepalanya tak berhenti bergerak melihat kanan kiri, bahkan kepalanya bisa berputar 360 derajat, seolah-olah sedang mencari mangsa. Dengan cepat gw kembali kearah Irfan dan terus berdiri, gw takutnya kalau gw duduk malah kaki lemes dan ngak bisa berdiri.

“Kenapa Vin ?” Tanya Irfan

“Simerah ada dilorong kamar Fan” Jawab gw dengan mata tertuju terus kepintu

Mendengar hal itu mereka merapatkan badan kearah Irfan, Tak sedetikpun gw palingan pandangan mata gw ke arah pintu, untuk mengawasi si merah saat keluar kamar, Tapi hasilnya nihil, si merah sama sekali tak terlihat keluar dari pintu rumah. Irfan pun masuk rumah untuk melihat keadaan, dan irfan berkata kalau simerah sudah ngak ada dirumah. Irfan menyuruh mereka tidur dikamar masing-masing lagi, dengan berat hati mereka yang bisa melihat si merah akhirnya mengiyakannya. Gw dan Irfan balik kekamar juga. Dan berusaha tidur

“Gimana keadaan loe vin?” Tanya Irfan

“Hampir gila” Kata gw singkat

Suasan hening pun datang, gw pun teringat kalau ini kawasan simerah

“Kok sibayangan bisa dating kesini ya fan” Tanya gw

“Mana gw tahu vin, mungkin diam-diam dia datang kesini”

“Lagian paling mereka tadi berantem dikamar Anton tadi sampai berantakan” Lanjut Irfan

“Heran gw, masa harus pake kungfu kalau jin berantem sampai berantakin kamar”

Irfan mungkin berusaha melucu, tapi ngak mempan buat gw

“Ayo fan, cepetan kita pergi dari sini, lama-lama bisa gila beneran gw” Kata gw

“makanya secepatnya selesaiin proker kita Vin” Kata Irfan

“Paling ngak laporan individu dan dokumen proker jadi, abis itu kita cabut”

“Loe bisa kan bertahan beberapa hari lagi ?” Tanya Irfan

Gw hanya mengangguk saat itu, beruntung gw bisa memiliki teman kayak Irfan, selain anaknya asik buat becanda, dia juga bisa ngerti kondisi dan kemauan kita. Malam itu merupakan malam yang cukup berat bagi selama ini, dimana malam ke 13 gw namakan “teror si merah”

“Menurut loe, gimana mereka besok setelah kejadian hari ini Fan ? Tanya gw

“Paling pada merengek minta pulang” Jawab Irfan

“Terus gimana nasib proker kita kalau ngak ada mereka? Tanya gw lagi

“Ngak tahu dah Vin, lihat aja besok, dan sono tidur”

Gw berpikir lagi kenapa gw bisa mengalami hal seperti ini, mungkin kelompok lain sedang asik-asiknya menikmati indahnya desa mereka, dan disini gw harus melihat kejadian-kejadian diluar logika manusia, selama ini setan yang gw tahu Cuma pocong dan kuntilanak, paling banter juga leak, dan ternyata setan itu banyak macamnya. Dan Pada akhirnya gw bisa tertidur dimalam itu tanpa ada munculnya si merah lagi, mungkin aja dia muncul tapi gw ngak sadar. Besoknya bapak pintar menjelaskan yang terjadi, bahkan tentang kamar yang bisa diberantakin jin-jin tersebut

Didesa ini gw sama sekali ngak pernah lihat yang namanya pocong, padahal pocong termasuk yang universal, dimana jika kita bertanya kepada orang pasti paham dan mengerti bagaimana rupa dan bentuk pocong. Dan juga kuntilanak, selama ini khas dari kuntilanak adalah ketawanya yang unik hingga ada yang menjadikan ringtone, tapi suara kuntilanak yang gw lihat bukan seperti itu, tapi melengking keras banget, selain itu juga memiliki taring, juga senang terbang-terbang, dan dialah penghuni kursi yang ditaruh sesajen dihutan, yang orang desa berkata kalau jin ini usilnya setengah mati. Jin inilah yang pernah masuk dalam cuplikan cerita gw saat gw nganter Vina dan Eni ke WC, Eni yang pertama melihat dan lari kearah rumah.

0 Response to "[Cerita Horor] KKN Berhantu Part 13"