[Cerita Horor] KKN Berhantu Part 2

KKN Berhantu

Yang belum baca cerita awalnya bisa baca di

Hari / Malam – 2

Gw terbangun, gw lihat jam tangan sudah menunjukkan pukul 9 pagi

“Fan, bangun fan” Kata gw membangunkan irfan

“Haa? Apa apa ?” Kata irfan kaget karena gw bangunin

“Jadi ngak ?” Kata gw, tangan gw membentuk teleskop agar irfan mengerti maksud gw

“Eh, iya iya ayo” Kata irfan bangun dari tidurnya dengan semangat

Kita keluar kamar, ternyata mereka sudah berkumpul diruang tengah sedang sarapan. Dengan sedikit rasa kecewa kita menghampiri mereka

“Ayo kak sarapan dulu, itu tehnya” kata Selvi nunjuk teh kita

“Makasih ya dek” ucap irfan ke Selvi

“Lho mana yang cowok-cowok, kok ngak ada?” Tanya gw

“Mereka lagi ke tempat pimpinan desa, nyoba minjem kendaraan kak” Kata giska menjawab

“Oh, jadi mau hari ini beli gensetnya ?” Tanya gw lagi

“Ngak kak, besok, sekarang cuma mau nyari kendaraan dulu” Lanjut giska menjawab

Gw dan irfan pun sarapan, sarapan saat itu nasi goreng & teh, rasanya lumayan daripada ngak ada. Vina hanya diam saat itu, mungkin karena ngak nyaman ada gw disitu, dia sibuk dengan HP nya yang belum habis baterainya. Gw pasti tahu, kalau mereka bakal membicarakan gw, kalau gw dan irfan lagi ngak ada. Tapi gw mah bodo amat, yang penting gw konsen sama KKN, karena kuliah gw sama irfan udah diujung tombak.

“Wah kalian udah seger-seger semua ya” Kata irfan sambil senyum

“Udah pada mandi ?” Tanya irfan ke mereka sambil makan sarapannya

“Udah kak, tadi subuh kita mandinya” Jawab siska

“Airnya gimana dek ?, gw mau mandi, tapi ngak suka kalau airnya dingin” Tanya irfan lagi

“Kalau subuh dingin emang kak, ngak tahu kalau sekarang” Jawab siska lagi

“Oh ya masalah proker gimana dek?, sudah ada rencana?” Tanya gw mumbuka topik baru

“Nanti gini kak, nanti sore / malam kita akan bahas semua” Kata Selvi

“Besoknya, barang yang berhubungan dengan proker sekalian beli dikota” Lanjut Selvi

“Makanya pagi dan siang ini, coba kak alvin sama kak irfan keliling desa lagi” Kata Giska

“Sapa tahu ada masukan proker, soalnya kita mau konsen ke proker kelompok” Lanjut giska

“Oke, sip banget dek, habis ini gw sama irfan keliling” Kata gw

Berlanjut ke obrolan ringan. Setelah selesai sarapan, kita ngerokok sambil nurunin makanan diperut dulu, setelah agak enakan, kita pamit ke mereka untuk survey tempat. Waktu kita berpamitan, selvi nyuruh Vina untuk ikut gw dan irfan, vina hanya geleng-geleng kepala.

“Ikut aja sana vina” Suruh giska ke vina

“Iya, daripada loe bengong ngak ada kerjaan” Kata Siska ikut maksa vina

“_____” Vina hanya diam maen HP

“Ntar kita aja yang bersih-bersih rumah” Lanjut giska

“Sekalian tuh nyari-nyari proker individu, biar enak” Paksa Selvi

Dengan berbagai paksaan akhirnya Vina ikut kita, HP nya tetap ada ditangannya ngak pernah lepas, dan juga dia jaga jarak kira-kira semeter.

“Fan, kemana nih ?” Tanya gw

“Coba ke hutan sana deh vin” ajak irfan ke gw

“Boleh deh” Kata gw setuju sama irfan

“Jangan jauh-jauh dek, sini samping gw, nanti kalau ada ular gimana?” Kata irfan ke vina

Tanpa bicara vina langsung kearah samping irfan, diperjalanan dia hanya diam, pipinya digelumbungkan terus seolah-olah pipinya itu mainan. Irfan mengambil ranting, panjangnya seperti pedang. Kira-kira 200-300 meter kita berjalan, gw lihat ada kandang sapi & sebuah gubuk kecil dihutan itu, bau sapi juga sudah tercium.

“Ini kandang sapi bapak kemaren malam mungkin fan” kata gw

“Iya, tapi jauh juga tuh bapak jalan kakinya” kata irfan

“ya mungkin tuh gubuk rumahnya” katak sambil nunjuk ke gubuk

“Lha terus ke desa malam-malam ngapain?" Tanya irfan penasaran

“Mana gw tahu, lanjut perjanan dah” Kata gw

Kita pun akhirnya melewati kandang sapi tersebut, kita berjalan lurus semakin jauh, irfan nyaranin jangan jalan lurus terus, kita disuruh muterin ni hutan, dan gw setuju. Kita berjalan tanpa arah seperti sedang berpetualang. Dan sampailah kita dilokasi kuburan desa, meskipun rumah didesa hanya 40-50 rumah, tapi kuburan disana cukup banyak, terbukti dengan adanya puluhan bahkan ratusan batu nisan. Didekat kuburan ada lokasi mata air yang indah banget, juga ada sebuah batu yang meyerupai orang sedang menyembah, itu bukan ukiran batu, tapi memang bentuk batu yang mirip orang sedang meyembah. Kalau dilihat memang hanya bongkahan batu, tapi jika dilihat baik-baik, atau dilihat dari agak dekat, seperti orang menyembah.

“Gila fan, indah bangeet” Kata gw sambil menaruh tangan gw dipipi dan tersenyum

“Pingin gw mandi disitu” Kata gw lagi sambil senyum ke irfan

“_____”

“Loe sih lagi ngapain vin ?” Kata irfan tanpa ekspresi

“Loe ngak lihat apa, keren ni tempat” Kata gw

“Nanti malam kita kesini lagi ya” kata irfan

“Gw pingin ngelihat loe bilang, Gila fan, indah bangeet” Kata irfan menirukan gaya gw megang pipi

Melihat kejadian itu vina hanya tersenyum tanpa lihat ke gw. Irfan berjalan mendekati mata air tersebut, dia bermain air menggunakan tongkat rantingnya sambil melihat-lihat sekitar. Ngak lama irfan deketin gw dan vina.

“Eh, ayo cabut dari sini” Ajak irfan

“Kenapa emang, masih siang nih?” tanya gw

“Gw lihat dekat mata air, ada sesajen sama selendang kuning lusuh”Kata irfan

“Fan jangan gitu fan, gw jadi ngerasa kayak lagi difilm-film horor” Kata gw memandang irfan

“Ya terserah loe vin, loe jagain aja ni tempat, gw balik aja” Kata irfan berjanan ninggalin gw

Irfan melangkahkan kaki pergi dari daerah situ, gw dan vina langsung ngikutin irfan dari belakang dengan langkah kaki agak cepat. Saat berjalan entah kemana, kita ketemu lagi tempat yang bikin hati ngak enak, ada sebuah rumah dari bata ukuran kira-kira type 36 yang benar-benar terbengkalai, lebih tepatnya “mungkin” karena bekas kebakaran atau dibakar, karena ada bekas hitam-hitam ditembok seperti terbakar. Pikiran gw saat itu kemana-mana, sampai bahkan berpikir kalau gw bakal dihantui dll.

“Fan, nanti coba kita tanya ke pimpinan desa masalah hutan ini ya” Kata gw ke irfan

“masalahnya, rumah yang kita tempati dekat sama hutan ini” lanjut gw sambil menatap rumah tersebut

“Kalau ada apa-apa gimana coba?”lanjut gw lagi

“Terus yang mau loe tanyain apa?” Tanya irfan sambil maenin tongkatnya

“Ya pokoknya minta konfirmasi aja tentang lokasi-lokasi ini” jawab gw

“Kalau memang ngak layak, kita harus dekat hutan ini” kata gw

“Kita bisa minta lokasi rumah lainnya” lanjut gw lagi

“Loe kira mau kepala desa nyiapin rumah lagi?” Tanya irfan ke gw

“Udah sukur kita dibolehin KKN disini” jelas irfan sambil tetap bermain tongkatnya

“Nanti aja loe tanyain, waktu ngajukan proker ke pimpinan desa” Saran irfan

“Ini baru hari pertama lho vin didesa ini, masa kita udah banyak maunya, jalanin aja” kata irfan

Penjelasan irfan cukup membungkam mulut gw, irfan ada benarnya, baru hari pertama gw udah banyak maunya, lagian hal yang tidak diinginkan belum terjadi. Gw bisa tenang sedikit saat itu, mungkin pikiran gw aja yang lagi mikir aneh-aneh karena kebanyakan nonton film horor. Hanya sebentar gw bisa tenang, diperjalanan, kita melihat lagi ada tempat yang benar-benar bikin resah, ada sebuah pohon tua besar, dibawahnya juga ada sesajen yang isinya hanya pisang, jantung berdetak kencang banget, ditambah lagi irfan mengucapkan kata
“Permisi numpang lewat” Kata irfan sambil lihat pohon tersebut

“_____”

“ngapain loe fan?”

“Ada sesajen, ada penunggu” Kata irfan simpel tanpa ada ekspresi takut dimukanya

Vina kelihatan udah ngak nyaman, terlihat jelas dari ekspresinya

“Kak, balik aja yuk” Kata vina dengan ekspresi ketakutan

“Iya fan balik aja” kata gw

“Iya, ni juga mau balik, gw juga udah ngak betah disini” Kata irfan dengan santainya

“Kita ngak tersesat kan fan ?” Tanya gw

“Tenang aja, gw tahu kok” Jawab irfan

Perjalanan pulang berhasil, sebenarnya gw ngak nyangka kalau bisa nemuin jalan pulang, padahal gw berpikir kalau kita tersesat. Dirumah, vina nyeritain kejadian dihutan, tapi ekspresi yang mendengarkan cerita terlihat biasa aja. Gw bisa maklum karena mereka ngak ngalami, dan juga cerita disiang hari ngak menakutkan seperti cerita dimalam hari.

Hari sudah hampir malam, semua sudah berkumpul diruang tengah, dari kegiatan mereka masing-masing, seperti observasi proker KKN. Disana dibahas mengenai proker utama, dan dapatlah ide untuk proker utama yaitu pembuatan sumur dan pembuatan kamar mandi umum, semua udah masuk rencana, tukang akan diambil dari desa sini, ada orang yang bisa mengerjakan. Gw berpikir, sebenarnya sia-sia melakukan proker tersebut, jika ada orang desa situ yang bisa membuat sumur, kenapa mereka ngak melakukan sendiri, buktinya mereka lebih milih mandi disungai yang airnya benar-benar bersih karena dekat mata air. Tapi gw setuju-setuju aja kalau memang bisa masuk dalam proker kelompok. Apalagi kita dituntut membuat proker utama berupa fisik minimal 5 proker.

Dan untuk proker pembuatan kamar mandi umum, gw sama irfan dengan berat hati ngak setuju, untuk alasannya pasti sudah pada mengerti. Tapi saat itu gw dan irfan ngomong dengan alasan terlalu membuang uang, batu bata yang dibeli dikota, lebih mahal ongkos kirim kesini, daripada harga batu-batanya. Tapi lagi-lagi karena mengambil suara terbanyak, akhirnya jadilah proker pembuatan kamar mandi. Diperkirakan akan memakan waktu 1 bulan lebih untuk jadi kamar mandinya, karena mereka menyarankan pembuatan sumur dahulu. Setelah selesai, dan membuat pengajuan secara tertulis karena ngak ada printer, kita akan pergi ke kepala desa.

“siapa yang pergi ke kepala desa sama gw?” Kata Selvi sebagai sekertaris

“gw dek, sama irfan” Kata gw mengajukan diri sambil nunjuk irfan

“Oke kak alvin sama, kak irfan ya” kata Selvi

Mereka pun menyetujuinya, kita bertiga pergi kerumah kepala desa, melewati rumah yang pernah ditunjuk kepala desa waktu itu, agak merinding sebenarnya, karena kondisi gelap dan rumah yang hampir rubuh karena lapuk, setelah lewat sana, gw baru sadar kalau rumah itu miring dan benar-benar hampir rubuh. Tak lama kita sampai rumah kepala desa, rumahnya paling bagus sendiri dan terbuat dari bata, kanan kirinya rumah panggung. Dirumah pak kepala desa, kita membahas masalah proker tersebut, pak kepala setuju, dan yang nentukan lokasi adalah pak kepala. Selain itu pak kepala menyarankan untuk melakukan pemberantasan buta huruf, hampir semua anak-anak disini ngak bisa membaca karena memang ngak sekolah. Kita pun menyetujuinya dan akan dibahas dulu oleh kelompok. Disela-sela obrolan ringan gw sempatkan bertanya, walaupun irfan nyenggol kaki gw untuk jangan dilanjutkan

“Pak, hutan didekat kami itu bagaimana pak?”

“Bagaimana apanya dek?”

“Ya, apa aman atau gimana pak” Kata gw sambil ngelus-ngelus kepala dan senyum salting

Gw sendiri ngak tahu harus ngomong apa, rencana yang pingin gw omongin tiba-tiba langsung ilang, mungkin karena gugup dan ngerasa ngak enak jika harus diomongkan. Padahal gw pingin tanya agama karena ada sesajen, masalah lokasi-lokasi yang tadi siang gw lihat dll.

“Lha tadi malam aman ndak dek?”

“oh aman pak hehe” kata gw senyum

“Nah itu aman” kata pak kepala membalas senyum gw

“kalau untuk masalah rumah, cuma ada itu ya pak?” Pertanyaan aneh gw keluar karena masih terpikir lokasi-lokasi tadi siang

“Iya dek, kalau ngak ada kalian, rumah itu juga kosong” Jawab kepala desa

“Saya ngak mau ikut campur kok, kalian mau ngapain saja dirumah itu” kata pak kepala desa

“Kalian sudah dewasa, pasti pikiran kalian juga dewasa, yang penting tetap ramah sama warga sekitar ya” Kata pak kepala tersenyum
Gw salting dan seperti ngak tahu mau ngapain lagi karena udah ngak enak, pertanyaan gw bisa menjadi aneh karena belum ada hal ganjil yang gw alami selama disini, jadi dalam hati gw agak ngerasa bersalah dan malu bertanya seperti itu tadi.

“Pak, tadi saya kan ke hutan nih” kata irfan dengan senyum malu-malu

“terus ngelihat ada mata air dan batu seperti menyembah, tempat apa ya itu pak?” Lanjut irfan

“Itu dulu tempat mandi untuk leluhur dek” kata bapak tersenyum

“Jadi disini kepercayaannya masih kepada leluhur ya pak?” Kata irfan bertanya lagi

“Banyak yang masih seperti itu dek, tapi ada juga yang sudah beragama” Jawab bapak tersebut

“Yang penting hidup damai berdampingan kan dek? Lanjut bapak tersenyum

“Hehe iya pak” Kata irfan sambil ngelus-ngelus kepala

Setelah obrolan ringan kita akhirnya pamit untuk pulang, lagian tanpa sadar sudah jam setengah delapan, pak kepala menemani sampai depan pintu rumahnya

“Malam-malam jangan pergi kehutan lho dek” kata pak kepala

“Kenapa ya pak ?” Tanya gw reflek karena berpikir macam-macam

“Takutnya kan nanti ada hewan liar kayak ular atau apa” Kata pak kepala

“Oh iya pak, makasih” kata gw sambil tersenyum

Peringatan pak kepala ngak gw anggap sebagai peringatan adanya binatang liar, maklum gw orangnya agak parno kalau masalah yang diluar logika, diperjalanan pulang sudah pasti kita melewati “rumah hantu” tadi. Sampai dirumah kita berkumpul lagi untuk bahas apa yang dikatakan pak kepala desa. Mereka kelihatan tenang, gw sendiri mungkin yang kebanyakan pikiran, film horor yang sering gw tonton menjadi acuan gw untuk berpikir macam-macam.

Setelah selesai pertemuan / rapat, kita semua mengambil keputusan jika anton sebagai ketua dan putra sebagai wakil, besok akan ke kota untuk mengurus semua bahan-bahan yang digunakan proker. Otomatis sisa bertujuh anak KKN yang ada disitu. Dan yang lebih menyakitkan, anak perempuan lebih memilih cuci muka daripada mandi. Seperti biasa setelah makan malam, gw dan irfan nongkrong diteras rumah, saat itu selvi dan siska ikut nongkrong lagi, sedangkan yang lainnya membentuk kelompok sendiri-sendiri untuk mengobrol. Melihat keadaan gw yang masih agak ketakutan irfan berusaha menenangkan

“Eh vin, biasa aja kali, loe ngak sendirian disini” Kata irfan

“Kalau ada apa-apa kan banyak yang bantu” Lanjut irfan berusaha menangkan gw

“iya iya fan, gw ngerti, tenang aja, gw masih dalam proses membiasakan diri” kata gw senyum

“Maklumlah fan, baru pertama kali ngalami seperti ini” Lanjut gw

“Siap, nah gitu ganteng temen gw” Kata irfan ngerayu gw

“Kamu cowok lho kak, harusnya bisa ngelindungi yang cewek donk”sindir selvi berusaha akrab

“Iya iya dek” kata gw senyum ke selvi

“loe belum kejadian aja udah ketakutan, apalagi kalau kejadian” kata irfan

“Eh udah diem loe, tenang aja, ngak bakal gw ketakutan, udah dibilang lagi membiasakan diri malah nyindir loe” kata gw sambil mukul irfan pelan

“Oke sip” kata irfan sambil ngangkat tangan buat tos

“Eh kak, kita masih 88 hari lho disini” Kata siska mulai ngomong

“Ayo kak semangat” kata siska lanjut sambil bergaya memberi semangat dengan kepalan tangannya

Mendengar omongan mereka sudah lumayan membuat gw berani, ada komitmen baru dihati gw kalau gw harus ngelindungi mereka. dimalam ini obrolan lebih condong untuk memberi semangat gw. Setelah agak lama obrolan, kita pun kembali kekamar masing-masing. Pintu kamar sengaja gw buka, karena belum tidur, dengan modal petromax gw bermain kartu remi yang sudah dibawa irfan terlebih dahulu. Ditengah-tengah acara bermain remi, sesosok bayang merah lewat dengan cepat didepan pintu kamar gw. Tapi saat itu gw diam aja, gw berpikir kalau itu hanya perasaan gw doank

“Eh vin” Kata irfan yang lagi ngatur kartu

“Apa cuma gw doank yang lihat bayangan merah lewat?” lanjut irfan

“Gw juga lihat” kata gw sambil menata kartu

“Gimana menurut loe?, takut loe ?” tanya irfan menatap gw

“Kagak” Jawab gw simpel

“Serius?” tanya irfan

“Dari tadi gw mikir, percuma gw takut disini, lagian ngak bisa berbuat apa-apa” Kata gw dengan tenang

“Mantep nih temen gw” Kata irfan senyum

“Gw hari pertama datang juga mikir gitu, jadi gw beraniin diri” Kata irfan ke gw

“Coba sekarang loe cek deh kedapur” Kata irfan mencoba nyali gw

Tanpa pikir panjang gw ke dapur, gw bawa petromax kedapur tapi ngak ada apa-apa

“Gimana?” Kata irfan dari depan pintu kamar

“Ngak ada apa-apa fan” kata gw sambil berjalan balik ke kamar

“Ya udah tidur aja dah, besok kita harus bangun subuh-subuh vin” Kata irfan senyum ke gw

“____” gw hanya tersenyum saat irfan berkata seperti itu, karena gw ngerti apa yang dimaksud
Cuplikan :
Eni menutup mulutnya dan berlari kearah rumah, dengan curiga gw lihat kearah sekitar, sosok bayangan putih diatas pohon terlihat nampak jelas dikegelapan, dan dengan cepat gw alihkan pandangan gw dari sosok tersebut, gw ambil rokok yang ada dikantung dengan tangan yang tak berhenti gemetar, gw ingin berlari sejauh mungkin tapi masih ada Vina didalam toilet.

1 Response to "[Cerita Horor] KKN Berhantu Part 2"