[Cerita Horor] KKN Berhantu Part 3

KKN Berhantu Part 3

Yang belum baca cerita awalnya bisa baca di

HARI / Malam – 3

“Vin, vin dah subuh, ayo cepat” Kata irfan berbisik membangunkan gw

“_____”

“Vin, cepet, jadi ngak ? “ Kata irfan masih berbisik

“Apaan sih fan, gw masih ngantuk banget” Kata gw menepis tangan irfan yang membangunkan gw

“Jadi ngak nih liat body selvi” Kata irfan berbisik langsung ke topic

“Ngak ahk fan, males gw” kata gw Karena masih ngantuk

“Jangan nyesel loe ye” Kata irfan nendang gw langsung pergi

Posisi gw saat itu ada dalam keadaan proses kembali tidur, kesadaran gw masih ada. Gw dengar Irfan keluar kamar, tak lama terdengar langkah irfan masuk lagi. Gw pun bangun, dari posisi tidur, ke posisi duduk. Melihat gw bangun, irfan memberi isyarat untuk diem, setelah isyarat, terdengar suara obrolan yang terdengar pelan, setelah suara menghilang, irfan langsung keluar kamar lagi. Saat irfan keluar kamar, gw mencoba tidur, tapi kalau membayangkan body selvi, susah bagi gw untuk tidur lagi. Dengan cepat, gw jalan kearah irfan, kamar para cowok masih tertutup rapat, irfan sudah berdiri diatas kursi memegang teropong. Teropong irfan itu teropong seperti teropong bajak laut, dimana hanya menggunakan 1 mata untuk melihat.
“Gimana ?” kata gw deg-degan

“Sabar” kata irfan masih sambil mengintip

“Eh cepet gantian” kata gw maksa

“Sial, mereka pinter vin”

“Apaan, cepet”

“Mereka naruh petromaxnya diluar kamar mandi”

“Lha emang napa?”

“Ya ngak kelihatan tolol, loe liat jam berapa ini”

Saat itu gw langsung lihat jam, dan saat itu jam menunjukkan jam 4 lebih. dimana matahari belum muncul dan masih menunjukkan sedikir sinar merahnya dibalik gunung.

“Coba sini gantian” kata gw ngak percaya

“Nih” Kata irfan menyerahkan teropong

Gw perhatikan dengan seksama ternyata teropong ini rusak, karena ada bekas patah ditengah, tapi gw ngak permasalahin itu. Gw langsung menancapkan teropong ke lubang yang sudah diperlebar. Dan ternyata benar apa yang dikatakan irfan, yang Nampak hanya bayangan mereka mandi karena cahaya yang dihasilkan lampu petromax, tapi melihat gerakan mereka mandi sudah bisa membuat nafsu timbul, gerakan mereka membersihkan dada dan bagian intim sudah cukup bagi gw saat itu, tapi kadang gw membayangkan bagaimana kalau bisa melihat badan mereka secara langsung.

“Gimana nih fan ?” Kata gw memanas

“Pura-pura tidur” kata irfan santai

“Terus ngak ada jalan lain?” Kata gw

“Banyak jalan menuju roma” Kata irfan

“Terus hari ini gimana?” 

“Ya udah pasrah aja, terus mau gimana?, gw aja ngak nyangka bakal gini” kata irfan agak kesel

“Gw kira tuh petromax mau ditaruh didalam kamar mandi, ini malah digantung” lanjut irfan

Dengan berat hati gw ninggalin dapur, gw kira ngintip mandi bakal segampang balik telapak tangan, tapi bener, manusia itu berakal. Dan kita balik kekamar dan tiduran, entah kenapa gw ngerasa ngak nyaman. Tapi saat itu gw berpikir

“Eh fan” kata gw memanggil irfan yang juga lagi tiduran

“Hmm…” ucap irfan terasa malas

“Kalau mereka pakai baju atau ambil baju, mereka butuh lampu kan?”

“_____” irfan terlihat seperti berpikir

Setelah itu irfan langsung berlari kearah dapur, dengan cepat gw juga ikut berlari. Tanpa lama-lama irfan naik kursi.

“Fan, fan cepat gantian”Kata gw maksa

“Telat vin, cepat balik!!”

“Sini!!” gw rebut dan langsung ambil posisi,

Terlambatlah gw, mereka sudah berjalan kembali ke rumah

“Coba tadi loe mikirnya cepat vin” kata irfan sambil jalan kekamar

“Kenapa ngak loe yang kepikiran, biasanya loe hebat macam gini” kata gw sambil menendang pantat irfan dari belakang

Sesampai dikamar kita pura-pura tidur, beruntung kita pura-pura tidur, karena saat itu ada seseorang yang membuka pintu kamar gw dan menutupnya lagi. Mungkin mereka lagi ngecek kita apa masih tidur apa sudah bangun.

Jam menunjukkan pukul 8 pagi, gw yang tadi pura-pura tidur menjadi ketiduran. Gw lihat ke irfan ternyata dia sudah ada di ruang tengah ketawa-ketawa bareng mereka. Gw menghampiri mereka masih dalam keadaan ngantuk, anton dan putra belum berangkat ke kota.

“Belum berangkat dek?” kata gw dengan suara orang bangun tidur

“Belum mas, sebentar lagi” jawab anton senyum ke gw

“Sarapan dulu kak” kata siska yang baru selesai masak

Sarapan lagi-lagi nasi goreng, ya mungkin karena simpel, cuma butuh nasi, telor dan bumbu-bumbu. Gw habisin nasi goreng yang sudah disiapkan, anton dan putra bersiap berangkat ke rumah kepala desa untuk meminjam motor. Vina menghampiri putra, memeluk dan mencium bibir putra. Saat itu juga gw tahu mereka pacaran. Wajar bagi gw kalau iri melihat momen itu, gw hanya bisa duduk sambil ngerokok bareng irfan. Akhirnya anton dan putra berangkat, tak ada yang menemani mereka ke tempat pak kepala desa.

“Kegiatan sekarang apa dek ?” kata gw ke mereka yang lagi beres-beres

“Kita mau nemui masyarakat kak, sekalian silahturahmi” kata selvi yang menjawab

“Ayo kak ikut” ajak siska ke gw

“ngak dek, kalian aja” kata gw menolak ajakan siska

Gw dan irfan males kalau setiap jalan kita harus nebar senyum, baru jalan sebentar senyum ke orang, jalan lagi harus senyum lagi ke orang. Akhirnya gw dan irfan milih di rumah dan diam dan Cuma ngerokok, ngak terasa waktu sudah siang, mereka juga belum kembali ke rumah, akhirnya irfan dan gw nyusul ke desa, dengan komit, kalau ketemu orang desa pura-pura ngak lihat dan tetap ngobrol. Sampai didesa kita sudah melewati beberapa orang dengan pura-pura ngak melihat. Gw melihat kearah sungai, disana banyak anak kecil lagi mandi telanjang disungai, gw bertanya ke irfan

“fan, menurut loe mereka tuh umur berapa?” Tanya gw irfan

“paling umuran SMP vin, soalnya ada yang dadanya sudah tumbuh” kata irfan sambil membakar rokok

“kok pada ngak malu ya?” Tanya gw

“Samperin aja vin” kata irfan sudah jalan duluan

Disungai, anak laki-laki perempuan lagi asik bermain air, tanpa ada rasa nafsu sama sekali, dengan bertelanjang dada dan bermodal celana dalam, mereka saling menyiram air sambil tertawa, coba dikota, langsung pada disikat sama temannya sendiri. Gw coba bertanya ke salah satu anak disitu

“Umur berapa dek?” Tanya gw

“13” kata dia sambil langsung melanjutkan bermain air

“Gila, 13 tahun fan, berani maen air bugil gini” kata gw pelan

“Ya namanya desa vin, kayak gini mungkin wajar bagi mereka” kata irfan santai

“Ya udah vin lanjutin aja nyari mereka” lanjut irfan lagi

Dalam hati, gw jadi langsung setuju dengan adanya proker pembuatan kamar mandi umum. Gw bayangin bagaimana kalau lansia mandi disungai dengan kamar mandi yang bermodalkan bambu, agak berbahaya juga karena banyaknya batu-batuan disana untuk dilewati.

Saat melanjutkan perjalanan, akhirnya kita bertemu mereka, disana ternyata mereka lagi ngobrol dengan beberapa warga sana. Saat gw deketin, ternyata mereka lagi membahas tentang pemberantasan buta huruf, mereka lagi mengatur jadwal untuk kegiatan yang akan diadakan disana. Melihat mereka lagi asik, gw sama irfan milih pamit duluan karena kita cuma jadi obat nyamuk disitu. Saat itu kita lewat lagi di”rumah hantu”

“Vin, masuk yuk” kata irfan sambil melihat ke gw

“Ngapain fan ?. ngak ada kerjaan ?” kata gw menolak

“Masih siang nih, gw Cuma pingin lihat dalamnya aja” kata irfan sudah berlajan duluan kearah rumah itu

Gw ikutin irfan dari belakang, mungkin siang ngak terlalu seram daripada malam, ngak ada salahnya kalau cuma ngecek dalam rumah mumpung ada keberanian karena didukung siang hari

Sama halnya dengan film-film horror saat ini, dimana jaring laba-laba sudah jadi ciri khas rumah berhantu. Ruang tamunya cukup besar, kursi dari kayu masih ada diposisinya dan dipenuhi debu, ada sebuah lukisan keluarga disana, Irfan berjalan menuju kamar, kasurpun masih ada ditempatnya. Jika dilihat baik-baik, rumah ini ngak menakutkan, sama kayak rumah warga lain, cuma karena ngak terawat, jadi terlihat mengerikan. Ngak lama gw ngajak irfan balik, dan irfan setuju. Saat perjalanan kerumah, ada 2 warga yang lagi bawa sesuatu ke dalam hutan

“Vin vin, ikut mereka yuk” ajak irfan ke gw

“Kehutan lagi ?” Tanya gw dengan agak malas

“Iya, petualangan lagi” Kata irfan tersenyum ke gw

“Ngikut aja deh gw, lagian ngak ada kerjaan” kata gw menerima ajakan irfan

Tak lama kita nyusul, terdengar mereka sedang berbicara bahasa daerah situ yang sudah pasti gw ngak ngerti.

“mau kemana pak?” sapa irfan

“mau naruh ini” kata bapak tersebut sambi tersenyum ke irfan

“Apa ya itu pak?” Tanya irfan lagi

“ini barang untuk leluhur sini, menghormati” kata bapak itu

“Saya ikut ya pak, sekalian jalan-jalan” kata irfan

“_____” bapak tersebut hanya mengangguk dan tersenyum

Diperjalanan kita ngak berbicara dengan mereka, kita berdua jalan dibelakang mereka, dan sampailah dikuburan desa, bapak tersebut menaruh sesajen di 2 kubur, yang lainnya seperti ngak penting, terlihat mereka seperti sedang berdoa, setelah itu perjalanan dilanjutkan ke arah mata air, disana seperti sedang ritual, selendang kuning disana dicelupkan diair dan ditaruh lagi didekat situ, diatas selendang ditaruh sesajen dan ditindas batu kecil agar tidak tertiup angin.

“Fan, cabut yuk” kata gw ke irfan

“Ikut aja mereka vin” kata irfan tanpa lihat gw

“Bosen gw” kata gw

“Ya udah loe balik aja sono” suruh irfan

Karena gw malas balik sendiri dan bakal bengong dirumah, gw akhirnya lanjut ikut mereka. Gw saat itu mengira kalau perjalanan mereka bakal ke rumah yang terbakar atau ke pohon tua yang gede waktu itu. Tapi perkiraan gw salah, ternyata mereka pergi kesamping untuk melanjutkan perjalanan ke belakang mata air. Disana ada sebuah kursi tua, dimana diatasnya ditaruh sesajen. Gw lama-lama jadi agak malas saat itu, karena lama-lama makin agak mengerikan, bahkan kursi yang kalau diduduki udah pasti patah malah ditaruh sesajen. Dari jumlah sesajen yang dibawa, gw ngerasa kalau masih ada beberapa tempat dihutan ini yang akan ditaruh sesajen. Gw lagi ngebayangin saat itu

“Ni kursi aja ditaruh sesajen, bentar lagi mobil tua bakal ditaruh sesajen” kata gw dalam hati

“Fan, gw balik duluan ya” kata gw

“Yo” kata irfan singkat

Dengan rasa kecewa ke irfan gw pergi pulang, kalau cuma pulang ke rumah, gw masih hapal jalan. Dirumah gw bengong sendirian, gw pingin buat minuman anget, saat gw kedapur, gw lupa kalau masih pake kayu bakar, kadang masih terasa kalau lagi dirumah. Tak lama si siska balik bareng Eni duluan, gw minta tolong sama siska untuk dibuatin air panas dan siska mau. gw bilang kalau akan nunggu diteras, tapi saat gw lewat ruang tengah, ada Eni lagi disitu. Akhirnya gw milih duduk bareng Eni

“Gimana dek tadi ngobrol sama warganya”

“Berjalan baik kak, besok kita mulai ngajari anak-anak membaca” kata Eni senyum ke gw

“Katanya kamu semester 8 ya dek ?” Tanya gw

“Iya kak, kemaren mau nyelesaiin skripsi dulu, tapi waktu ujian skripsi ngak bisa ikut, karena ngak ada nilai KKN” kata Eni

“Jadi ngejar wisuda donk nih” kata gw senyum

“Iya kak, rasanya pingin cepat selesai KKN” Kata Eni

“Ortu dirumah sudah nyuruh-nyuruh cepat lulus, maklum anak pertama kak” Lanjut Eni

“Dimaklum aja dek, anak pertama itu kebanggan keluarga” kata gw

Tak lama minuman gw datang, gw minta air panas, tapi dibuatkan teh anget, padahal ditas gw ada kopi instan, tapi gw tetap terima. Siska melanjutkan memasak, setelah selesai, dia bergabung bersama kita. Dan akhirnya kita ngobrol bertiga disitu, disela-sela obrolan siska ngajak Eni ke hutan dekat situ, gw sudah nyaranin jangan, tapi mereka malah pergi, karena penasaran sama keadaan hutan, mereka mengira kalau hutan bakal indah kayak situasi pegunungan didesa. Kenyataannya memang indah, tapi “ada apanya” yang ngak indah. Gw saat itu diajak tapi gw menolak.

Berselang kira-kira 1 jam, Irfan datang bersama sahabat sejatinya kalau dihutan, yaitu ranting. Dengan santainya dia bermain-main rating memukul daun-daun disekitar, gw pikir kalau dia lagi hilangin kebosanan dengan maen ranting. Dirumah, irfan ngajak gw mandi, karena sudah 2 hari kita belum mandi. dengan keadaan terbuka, gw mandi dengan cara jongkok, dengan was-was gw sabunan takut ada yang ngintip, kalau cewek yang ngintip gw masih bisa terima, ngak kebayang kalau cowok yang ngintip. Disitulah gw mengerti posisi wanita kalau sedang mandi dalam keadaan terbuka, yang hanya bermodalkan anyaman bambu, gw mengerti kenapa mereka lebih waspada.
Malam pun tiba, mereka lagi membuat rencana proker ditemani lampu petromax, gw dan irfan milih duduk diteras seperti biasa merokok, dengan ditemani kopi instan

“Vin, gw saranin kita jangan kehutan lagi deh”

“Kenapa mangnya fan?”tanya gw penasaran

“Ya jangan pokoknya vin” kata irfan sambil menghisap rokok

“Makanya cerita” kata gw

“Gini intinya vin, ada beberapa tempat yang harus diwaspadai”

“Kalau didesa sih, tuh “sendang” doank” lanjut irfan

“Rumah hantu itu gimana fan ?” Tanya gw

“Itu cuma rumah bobrok, ngapain loe takut, kita masuk juga ngak ada apa-apa”

Kita terdiam kira-kira 2 menit, karena gw cuekin omongan irfan, dan akhirnya gw membuka topik lagi

“Jujur gw ngak nyaman fan kalau kayak gini, inti semua loe bilang gitu apa sih fan?” kata gw dengan agak emosi

“Eh vin, kita tuh salah tujuan KKN vin, tempatnya loe liat sendiri kayak gimana” kata irfan

“Gw bilang kayak gitu buat hati-hati aja vin, bukan buat cari sensasi” lanjut irfan

“KKN lancar kan enak vin, ngak perlu ada masalah” lanjut irfan lagi

Setelah penutup omongan irfan dan kira-kira saat itu jam 8 malam, Selvi minta dianter ke rumah pak kepala desa untuk minta persetujun dan tanda tangan masalah proker pemberantasan buta huruf, dan akhirnya gw yang nemenin selvi. Sampai dirumah pak kepala, selvi berbicara banyak membahas rencana pemberantasan buta huruf, gw diam aja karena ngak tahu bahan tentang proker mereka. Setelah selesai, gw dan selvi pamit untuk balik ke rumah, saat perjalanan, gw lewat depan “rumah hantu”, gw lama memandang rumah tersebut saat lewat didepannya. Dan tiba-tiba dengan mata kepala, gw lihat pintu terbuka dan tertutup kencang, seperti ada yang membuka dan menutupnya dengan cara dibanting. Selvi kaget dan baru melihat kearah suara, yaitu rumah tersebut.

“Sapa yang banting pintu itu kak” Tanya Selvi

“Ngak tahu dek, mungkin tetangga sekitar sini, ayo balik aja dek” kata gw

Dan akhirnya sampailah dirumah, mereka pada sibuk sendiri-sendiri, gw kekamar, disana irfan sedang tiduran, dan gw ikut tiduran

“tuh yang cowok-cowok belum pada balik ?” Tanya gw

“katanya 2-3 hari, sekalian ngawal truck bawa bata sama semen kesini” kata irfan mulai nguap

“eh fan, tadi pas gw lewat “rumah hantu”, pintunya kebuka terus banting sendiri” kata gw

“angin kali vin, kita masuk tadi siang aja ngak ada apa-apa” kata irfan

“Iya kali fan, gw juga males harus mikir macem-macem” kata gw

Setelah obrolan tersebut, gw sama irfan hanya diam, karena mungkin irfan udah ngantuk, diruang tengah suara obrolan wanita terdengar, gw mau ikut nimbrung tapi agak malas, jadi gw milih untuk tidur. 

Malam harinya kira-kira jam 2, gw dan irfan dibangunin oleh vina, sebenarnya cuma irfan yang dibangunin, tapi irfan ikut membangunkan gw.

“Kak, Eni lagi nangis dikamar” kata vina

“Saya tanya kenapa, tapi dia hanya geleng-geleng kepala” lanjut vina

Gw dan akhirnya pergi ke kamar vina & Eni, disana Eni tidur menyamping dan terisak, irfan pergi kesampingnya

“Kenapa dek ?” Tanya irfan

“_____” Eni hanya geleng-geleng kepala sambil mengusap air matanya

“Kangen rumah ?” Tanya irfan lagi

“_____” Eni tetap menggelengkan kepalanya

Gw dan irfan diam sebentar disana, Eni tetap terisak, Vina tidur disamping Eni sambil mengelus-elus lengan Eni. Entah kenapa gw tetap agak merasa jijik mendengar suara Eni menarik ulur ingusnya, meskipun momennya lagi sedih

“Dek, nanti kalau ada apa-apa panggil gw lagi ya” kata irfan yang masih disamping Eni

“Atau teriak juga gpp, nanti gw langsung terbang kesini” kata irfan sambil senyum berusaha bercanda

“______” Eni mengangguk sambil tersenyum kecil.

Gw dan irfan kembali ke kamar lagi dan melanjutkan tidur, tanpa membahas apa yang dialami Eni

Next Part (Bukan Cuplikan)
Sosok berbadan tinggi muncul didekat pintu kamar Eni, tingginya melebihi plafon rumah yang terbuat dari anyaman bambu, hingga hanya kaki sampai mulutnya yang terlihat. Ternyata inilah sosok penunggu dari rumah “terbakar” yang dikunjungi Eni dan siska. Dia menunjukkan dirinya seakan ngak suka gw dan irfan berada bersama Eni. 

0 Response to "[Cerita Horor] KKN Berhantu Part 3"