[Cerita Horor] KKN Berhantu Part 7

KKN Berhantu Part 7

Yang belum baca cerita awalnya bisa baca di

Hari / Malam – 7

Hari ke 7, seperti biasa gw bangun kesiangan, niat untuk ngintip musnah sudah. Gw lihat irfan juga masih tidur disamping gw, jadi gw betah-betahin dikamar untuk tiduran, tak lama irfan bangun ngajak gw mandi, tapi gw tolak, karena jam 8 air masih terlalu dingin. Jadi lebih baik sarapan dulu terus santai-santai sambil mikirin proker agar bisa cepat lepas dari desa ini. Tak pernah sehari pun gw lupa kalau desa ini termasuk markasnya jin, dimana mata air adalah tempat salah satu “jendralnya”. Setelah bosan gw tiduran, gw ngajak irfan untuk sarapan tapi irfan menolak dan milih untuk tidur lagi, suara-suara para wanita ngobrol / gossip sudah terdengar. gw keluar kamar dan samperin mereka

“KaaaK ALviiiiiN, Selamat paaaagggiii” Sapa Selvi agak keras sambil tersenyum ke gw

“Itu Sarapannya kak” Kata Siska sambil senyum ke gw

Gw lihat para wanita memandang gw sambil tersenyum dan ada yang nahan tawa, gw yakin mereka lagi bahas tentang gw, saat selvi mengungkit gw dan irfan ngintip mandi.

“Kita udah mandi lho” Kata Vina ke gw sambil tersenyum

“Tadi mereka sabunin badannya sip banget lho kak” Kata Giska menggoda gw

Bener-bener risih gw saat itu, orang bangun tidur kalau diganggu udah jelas emosi, karena belum bisa mikir jernih, “brengsek banget mereka semua”, itu lah yang ada dipikiran gw.

“Cuci muka dulu ya” Kata gw paksain senyum ke mereka

Gw pergi ke dapur dan cuci muka disana, setelah selesai gw balik ke tempat mereka asik mengobrol, disana mereka tetap menggoda, gw hanya tersenyum biar mereka sungkan untuk ngelanjutin godaan mereka, gw duduk didekat Eni, gw pandang tajam banget, gara-gara ni anak gw jadi bahan lelucon, selain itu, gara-gara ni anak gw gagal ngintip. Eni sesekali melihat gw dan langsung nunduk lagi saat tahu gw sedang menatap tajam dia.

“Yuk lanjutin proker buta hurufnya” Ajak Selvi ke yang lain

“Iya, sekalian konsultasi proker gw nih” Sahut Giska

Dan berangkatlah mereka ke desa, tapi saat itu Eni dan Siska belum berangkat, mereka ke kamar Eni ngak tahu mau ngapain. Gw lanjutin sarapan dan minum teh, Irfan pun bangun dari tidurnya dan pergi cuci muka ke dapur. Tak lama Eni & Siska datang nyamperin gw.

“Kak Alvin, maap ya” Kata Eni ke gw

“Maap buat apa ya dek ?” Kata gw tanpa memandang Eni

“Ya masalah ngintip ngintip itu lho kak” Kata Eni lagi

“Oh, iya iya ngak papa, lagian Cuma iseng kok dek” Kata gw

“Ya udah kak, kalau gitu saya berangkat dulu” Kata Eni pergi ninggalin gw

“Iya dek hati-hati” Kata gw tanpa memandang mereka lagi

Mereka berdua bersiap didepan pintu memakai sepatu

“Kak Alviin” Panggil Siska ke gw

Gw melihat ke arah Siska yang manggil gw

“Bodynya selvi kaaaaak, bagusss abissssss” Kata Siska menggoda gw lagi

“Bosen idup ya dek ?” Tanya gw tersenyum benci ke Siska

“Hahaha, aku pergi dulu ya kak” Kata Siska melambaikan tangan ke gw sambil tertawa

Mereka berdua pun pergi menyusul yang lainnya ke desa, irfan datang nyamperin gw habis cuci muka.

“Kenapa mereka tadi ?” Tanya Irfan

“Lagi sibuk goda gw gara-gara ngintip” Jawab gw apa adanya

“Lagian juga, kita kayak orang ngenes aja disini” Lanjut gw

“Ngak papa lah, itu kan hiburan, ngintip itu melatih jantung juga karena deg-degan” Kata Irfan

“Ngelatih jantung apaan, kalau dah ketahuan terus digoda gini jadi emosi gw” Kata gw mukul lengan irfan

“Dah, sekarang rencana hari ini apa ?” Tanya Irfan sambil ngelus ngelus lengannya

“Ke Kades dulu, usulin proposal proker pembuatan bak sampah” Jawab gw

“Ya udah brangkat sekarang aja” Kata Irfan

Gw dan Irfan pergi ke rumah pak kades, dijalan kita masih membahas tentang pakaian merah yang gw dan irfan lihat tadi malam, selain itu kita bahas juga tentang “rumah hantu”, tapi gw ngak nanya tentang penunggunya seperti apa bentuknya. Setelah sampai dirumah pak kades, Giska dan Vina sedang ada dirumah beliau untuk konsultasi masalah proker giska, termasuk lama mereka konsultasinya. Untuk semua proker yang berupa fisik, tata letak ditentukan oleh pak kades, mungkin beliau mencari tempat yang sekiranya makhluk halus didaerah situ tidak marah. Setelah giliran kita untuk konsultasi, Giska dan Vina pamit duluan untuk membantu proker pemberantasan buta huruf, dan tinggallah kita bertiga, dirumah pak kades kita konsultasi masalah proker pembuatan bak sampah, dan pak kades menyetujui, dan kita diberitahu kalau bak sampah akan ditaruh didalam rumah, bukan diluar rumah seperti dikota-kota.

Konsultasi pun selesai, pak kades memanggil salah seorang warganya yang bisa membuat kerajinan, beliau minta tolong membuat bak sampah sebanyak 40 biji untuk dibagikan kewarganya, untuk dana kita yang tanggung, meskipun gw belum konsultasi ke Selvi masalah dana, tapi gw percaya kalau mereka bakal setuju, total pembuatan bak sampah saat itu total 1,2 juta, karena memang apa adanya, bukan full dari kayu, karena ditambah papan bekas yang dicat. Setelah semua urusan, gw nyinggung masalah konsumsi untuk proker penyuluhan gw, pak kades sudah menyiapkan bahan-bahannya, jadi besok gw tinggal bawa badan doank, dan mengganti uang pak kades. Semua telah selesai, gw milih balik ke rumah bareng irfan, dan gw yakin bakal bengong dirumah

Sampai dirumah kita berdua nyantai sambil ngerokok

“Vin, loe ngak penasaran sama batu tadi malam?”

“Penasaran lah, kenapa bisa ada sesajen diatas batu itu” Jawab gw

“Kan katanya Cuma ada 2 titik mistis didesa ini” Lanjut gw

“Apa mungkin pak kades salah ya?, dia kan ngak ikut nyembah leluhur” Kata Irfan

“Mungkin fan” Kata gw

“Ya udah, gw lihat ke batu bentar ya, mungkin salah lihat kita tadi malam karena gelap” Kata Irfan

“Gelap apaan fan, udah jelas-jelas cahaya bulan terang banget tadi malam” Kata gw

“Ikut ngak loe, masih pagi nih, Cuma lihat doank” Ajak Irfan

Dan akhirnya gw dan irfan pergi ketempat batu yang tadi malam kita datangi, jarak rumah dan batu ngak jauh sama sekali, kira 30-50 meter dari rumah. Sampai dibatu, sesajen yang tadi malam ngak ada / hilang

“Ilang vin, ngak ada sesajen” Kata Irfan sambil tetap merokok

“Ya mungkin ketiup angin fan” Kata gw

“Kalau ngak, kita emang salah lihat tadi malam” Kata Irfan

“Iya juga palingan fan, dah lah, ngak usah mikir aneh-aneh fan” Kata gw

“Yang penting kita ngak ganggu mereka aja fan” Lanjut gw

“Iya vin, loe bener, lanjutin bengong dirumah aja deh”

Gw dan irfan akhirnya melanjutkan bengong dirumah karena ngak ada kerjaan, gw ngobrol bareng irfan tentang apa aja yang bisa dijadikan bahan obrolan. Tak lama siang pun datang, terdengar suara truk datang dari arah masuk desa, gw dan irfan datang menghampiri suara tersebut, karena kita tahu kalau anton dan putra sudah datang bersama bahan bangunan. Sampai dilokasi, pak kades dan warga udah berkumpul untuk bersiap menurunkan bahan bangunan dari truk, saat itu ada 2 truk yang datang membawa bahan bangunan. anton dan putra masih kangen-kangen sama para wanita, anton dipeluk sama selvi dan siska, vina meluk putra karena memang pacaranya. Kehadiran mereka kayak pahlawan yang datang karena kita butuh pertolongan, baru pergi beberapa hari aja, kangen-kangenannya kayak ngak ketemu 10 tahun. Truk lagi bersiap untuk ke lokasi yang diarahkan pak kades.

“Selvi pacaran sama anton ya fan?” Tanya gw sambil berjalan ke arah mereka

“Ngak tahu gw, tapi kok siska ikutan meluk-meluk gitu ?” Tanya irfan ganti

“Dah lah, serah mereka aja, setelah digoda masalah ngintip, jadi malas ngurusnya” Jawab gw

“Menurut loe, burungnya Anton berdiri ngak dipeluk 2 cewek ?” Tanya Irfan ke gw

“Mana gw tau tai, buat apa ngurus kayak gitu” Jawab gw

“Coba sekarang loe plorotin celana anton deh vin, biar kita bisa tahu” Kata Irfan

“Terus nanti kalau ngak berdiri loe sedot aja pakai mulut loe” Lanjut irfan

“Kalau berdiri, jadi kita tahu kalau dia homo” Lanjut Irfan lagi

“Kenapa ngak loe aja njing?!, loe ni ngak ada kerjaan sampai obrolin kayak gitu ya?!” Tanya gw ke irfan

“Untuk menghibur diri donk, tahu sendiri KKN tuh membosankan” Jawab Irfan

Setelah beberapa obrolan kita sampai ditempat mereka, kita bersalaman dengan mereka, dan membuka obrolan tentang keadaan mereka. Mobil yang dibawa anton lumayan keren, yaitu mobil panther, mungkin tahu karena ada di daerah pedalaman jadi paham. Motor yang dipinjam dari warga digantung dibelakang mobil, mereka memberi uang lebih kepada pemilik motor karena telah dipinjam lama oleh mereka. 

Tak lama supir truk datang menghampiri kita, dia berjalan kearah kita dengan melihat keadaaan sekitar sambil tersenyum ( Diingat bagian supir truk tersenyum melihat sekitar, karena ada hubungan dengan ending )

“Mas, ini kurang biaya anternya” Kata Supir tersebut

“Kan dari toko sudah ditentuin harganya mas” Kata Anton

“Tapi ini jaraknya mas, jauh dari dealnya, katanya 4 jam perjalanan, ini malah 7 jam lebih lho mas” Kata Supir truk

“Mas mungkin naik mobil Cuma 4 jam, tapi ini truk mas, ngak bisa ngebut, makanya lain kali dilihat berapa kilometer jaraknya mas, bukan waktu sampainya” Lanjut Supir tersebut

Dengan beberapa pedebatan, akhirnya anton ngalah dan ngasih uang tambahan 100 ribu untuk supir tersebut, dan supir tersebut juga 
menyetujuinya

“Kalian lagi coba bangun desa ini?” Tanya Supir tersebut

“Iya mas, lagi KKN mas” Jawab Selvi

“Oh yang kayak di kuliah-kuliah gitu ya?” Tanya supir tersebut

“Oh ya sudah, sukses ya mbak dan mas nya” Kata supir tersebut tersenyum sambil melihat sekelilingnya

Setelah semua bahan bangunan diturunkan, supir pun pamit pergi dari desa ini. Anton dan yang lainnya pergi menemui pak kades disitu, setelah beberapa obrolan, akhirnya proker pembuatan sumur dan kamar mandi dimulai besok. Setelah itu anton membawa mobil kesamping rumah. Sampai dirumah, anton minta bantuan gw dan irfan untuk membantu menurunkan genset dari mobil, setelah selesai menaruh genset diteras, kita memasang semua perlengkapan agar ada listrik yang mengaliri rumah, dan jadilah, ada lampu disetiap kamar dan ruang tengah, hanya dapur yang ngak dikasih lampu, karena perkiraan cahaya ruang tengah sudah cukup untuk menyinari ke arah dapur.
Ngak terasa udah hampir magrib, anton dan putra ngobrol diruang tengah, dan gw samperin

“Mana teman kalian yang 1 lagi?” Tanya gw

“Dia sebenarnya udah ada dikota kita mas, Cuma pesawatnya ngak berangkat minggu ini” Kata Anton

“Jadi minggu depan kita pergi lagi ke kota untuk jemput anak itu, janjian sama dia, kamis depan kita jemput dia di bandara” Lanjut Anton

“Jadi kalian balik lagi ke kota minggu depan?” Tanya gw

“Iya mas” Jawab Anton

Setelah itu kita ngobrol tentang hal yang ngak penting. Tak lama putra pergi dari tempat kita ngobrol, dan pergi ketempat vina yang lagi ngobrol sama selvi, putra langsung mencium vina didepan selvi, tangan putra masuk ke dalam baju vina, dan yang pasti meremas-remas dada vina. Melihat hal itu gw dah illfeel dengan vina, karena melakukan hal kayak gitu didepan teman-temannya. Semesum-mesumnya otak gw, gw masih bisa berpikir kalau kelakuan kayak gitu malah bikin malu diri sendiri. Tak lama setelah adegan tersebut, putra menarik vina kedalam kamarnya putra, dimana putra memang tidur bareng anton. Tanpa menebak pun gw tahu kalau mereka bakal ML.

Malam pun datang, gw dan para lelaki milih cuci muka ketimbang mandi, sama halnya dengan para wanita. Gw saat itu duduk diteras bareng irfan bersama kopi instan dan rokok, dan yang lain ada yang dikamar dan ada yang diruang tengah sambil bantu proker anton dan putra. Lampu dirumah memberi gw sedikit keberanian menghadapi malam yang mencekam, suara genset juga ngak keras, masih kalah dengan suara jangkring dan suara pohon yang tertiup angin. Adanya genset seperti ada surga, dimana semua batre HP terisi penuh meskipun ngak ada sinyal sama sekali.

“Lumayan ya fan ada lampu gini” Kata gw

“Iya lah vin, jadi agak berani gw kalau ada hantu muncul” Kata Irfan menggoda gw

“Ngak usah bicarain hantu deh fan, males gw, udah malem nih” Kata gw

“Lha mau bahas apa?, masalah dadanya vina yang gede dipegang putra?” Tanya Irfan ke gw

“Itu malah bikin nafsu kampret” Jawab gw

Tak lama irfan memandang arah hutan

“Vin coba loe lihat sana deh” Kata Irfan

Pandangan gw pun mengarah ke arah yang ditunjuk Irfan, dengan deg-degan gw lihat pakaian merah kemaren masih sibuk berpindah-pindah tempat. Melihat hal tersebut gw langsung masuk rumah meninggalkan irfan yang masih diluar rumah. Saat itu masih ada selvi, vina, anton dan putra diruang tengah, tapi gw pamit untuk tidur. Tak lama irfan pun nyamperin gw

“Gila, apaan lagi nih fan?” Kata gw dalam posisi tiduran

“Ya namanya makhluk halus kan menggoda vin” Kata Irfan

“Lagian juga dari jauh kok, ngak deketin kita” Lanjut irfan sambil tiduran disamping gw

“Ya udah fan, kita ngobrol masalah lain aja biar cepat ketiduran” Kata gw

Gw dan irfan ngobrol dikamar membahas hal yang ngak terlalu penting, seperti kenangan waktu maen dikota, butuh kira-kira 2 jam sampai akhirnya gw ketiduran. 

Tengah malam gw dan irfan dibangunkan Selvi sambil membawa petromax, lampu yang bersinar terang dikamar gw sudah mati.

“Kak, gensetnya mati kak, tadi saya mau tidur tiba-tiba mati” Kata Selvi ke gw dan irfan

“Anton sama putra kemana emang dek?” Tanya Irfan

“Kasihan mereka kak, kecapean, jadi udah tidur, maklum dari kota, kan jauh” Kata Selvi 

“Ya ditinggal aja kan bisa dek, lagian udah malam ngak perlu listrik” Kata gw

“Masalahnya saya lagi ngecas kamera untuk document besok kak” Kata Selvi

“Paling ngak 1 – 2 jam lagi penuh kak” Lanjut Selvi

“Ya udah, ayo vin, coba cek gensetnya” Ajak Irfan

Dengan malas gw pergi nemenin irfan untuk mengecek genset, selvi pun pamit untuk tidur karena pagi-pagi dia persiapan untuk prokernya. setelah dicek ternyata ngak ada masalah, karena genset bisa dihidupin lagi, tahu tidak ada masalah, gw dan irfan pergi tidur, gw mencoba untuk tidur lagi. Belum ada 15 menit ditinggal tiba-tiba genset mati lagi, kita cek lagi dan ternyata masih bisa nyala.

“Vin, coba kita tungguin sebentar deh nih genset” Kata Irfan ke gw

“Kayaknya ada orang iseng yang lagi gangguin kita” Lanjut Irfan

“Apa bapak yang pincang itu lagi ngak ada kerjaan ya fan ?” Kata gw udah nahan menguap

“Ya palingan vin” Kata Irfan senyum ke gw

Dan akhirnya gw dan irfan duduk diruang tengah sambil mengawasi genset dari jendela, sapa tahu kita bisa mergoki orang yang mencoba mengganggu kita. Tapi saat itu pikiran kita berdua salah, kita melihat dari jendela dan dari kejauhan ada pakaian merah masih bersembunyi dibelakang pohon, setengah badannya ada dibalik pohon.

“Fan, fan, fan” Kata gw manggil irfan yang sudah ada disebelah gw

Irfan pun langsung melihat ke arah pakaian merah tersebut. 

“Tuh hantu dari rumah hantu fan ?” Tanya gw dengan badan merinding

“Bukan vin, gw yakin bukan”

“Serius loe ?”

“Iya, yang di rumah hantu bentuk manusia cuma ngak ada kepalanya” Kata Irfan

Gw melihat pakaian merah pergi melayang ke arah gw dan irfan, saat itu lah gw tahu rupa dari pakaian merah, mukanya hancur, matanya hampir keluar, rambutnya seperti orang terbakar, dimana hanya sisa beberapa rambut. Sampai ditengah jalan dan belum keteras, tiba-tiba genset mati lagi.

“Fan, loe dimana ?” Kata gw sambil merinding

“Gw masih nyoba meraba-raba nyari petromax” Kata Irfan

“Nah dapat vin, bentar gw nyalain” Lanjut Irfan

“Jangan Fan jangan, serius mending jangan, ntar gw takutnya tiba-tiba muncul didekat kita gimana” Kata gw panik

“Ya udah, kita jalan kekamar aja vin, loe masih bisa lihat jalan?, kan ada cahaya bulan?”

“Bisa fan, dikit-dikit, lagian ikuti aja lampu kedip-kedip dari HP gw” Kata gw masih merinding

Sampai dikamar gw meraba-raba kasur dan mencoba tidur, terdengar suara irfan duduk didekat gw sambil mencoba menyalakan lampu petromax, saat irfan menyalakan korek api, sudut pandang mata gw melihat kain merah dengan kaki yang hampir membusuk berada dipojok kamar gw, dengan reflek gw tendang korek gas yang sudah menyala.

“Apaan sih vin, sakit nih!” Kata Irfan

“Dia ada dipojok kamar Fan, mending sekarang loe tidur aja fan” Kata gw masih tetap merinding

“Oh….” Kata Irfan mengerti yang gw maksud

Tak ada sekata pun keluar dari mulut kita, setengah jam sudah berlalu tanpa adanya cahaya, gw ngak merasa ngantuk sama sekali, jantung gw berdetak sangat cepat, keringat dingin terasa terus keluar.

“Loe dah tidur Vin ?” Tanya Irfan ke gw

“Belum fan, kira-kira masih ada ngak ya?” Tanya gw

“Gw nyalain korek buat ngelihat ya” Jawab Irfan

“Ya fan, boleh, buat mastiin aja, daripada ngak tenang gw tidur” Kata gw

Irfan pun menyalakan korek, gw fan irfan melihat sekeliling tapi si pakaian merah sudah tak terlihat, gw merasa lega, irfan mulai menyalakan petromax, gw ngak peduli malam ini ada listrik atau ngak. Irfan berdiri membuka jendela separuh, karena suasana agak panas setelah sipakaian merah pergi, mungkin karena keringat gw yang keluar. Tak lama jendela dibuka, Irfan terjatuh karena kaget sambil melihat kearah jendela. Melihat Irfan kaget, mata gw langsung menuju tempat irfan memandang. Jantung gw kembali berdetak sangat kencang, si pakaian merah ada diluar sisi jendela, matanya melihat ke arah gw, lalu melihat ke arah irfan, dan kembali melihat kearah gw, terus seperti itu beberapa kali, lalu si pakaian merah membuka mulutnya, rahangnya hampir jatuh, terdengar suara tawa “hi..hi..hi..hi..”pelan seperti mendesah, beda dengan kuntilanak yang sering ada di film-film horror. Melihat hal itu irfan melempar rokok 1 slop kearah si pakaian merah, dengan cepat si pakaian merah pergi kearah samping menghindar. Setelah kepergian si merah, gw baringkan badan dan menutup mata gw menggunakan bantal

“Salah apalagi kita fan?” Kata masih dengan keadaan mata tertutup bantal

“Ngak tahu gw vin” Kata Irfan

“Besok gw ketempat bapak “pintar” itu, buat nanya-nanya tentang pakaian merah” Kata gw

“Mungkin kita ada salah lagi, tapi kalau dipikir-pikir serba salah disini fan” Lanjut gw

“Vin, loe lanjutin tidur ya, jangan buka bantal loe” potong irfan

Mendengar irfan berbicara seperti itu, gw melepas bantal dari mata gw. Ternyata dipojok kamar ada si pakaian merah sedang berdiri menatap gw dan irfan. Gw lihat irfan sudah menutup wajahnya dengan bantal, melihat hal itu, gw langsung tidur tengkurap menutupi wajah gw, selang kira-kira 15 menit gw coba melihat keadaan sekitar, karena lampu petromax masih menyala, dan ternyata pakaian merah masih ada dipojok kamar tanpa pergi selangkah pun dari posisinya. Dengan cepat gw kembali memposisikan kepala gw kebantal lagi, dengan cemas, gw berusaha tidur agar pagi cepat datang, dengan was was akhirnya gw bisa tertidur dimalam itu walau butuh waktu yang cukup lama, tanpa tahu kapan si pakaian merah pergi dari kamar gw.

0 Response to "[Cerita Horor] KKN Berhantu Part 7"