[Cerita Horor] KKN Berhantu Part 8

KKN Berhantu Part 8

Yang belum baca cerita awalnya bisa baca di

Hari / Malam – 8

Pagi hari gw dibangunkan oleh suara anton dan yang lain tertawa kencang diruang tengah, saat itu gw emosi mendengar suara ketawa dari mereka, tanpa pikir panjang gw lempar HP ke arah pintu sehingga menimbulkan suara yang membuat mereka diam sejenak. Gw sempat melihat ke sebelah dimana irfan masih tidur, gw yakin dia sama kayak gw, susah buat tidur karena sipakaian merah muncul dikamar dan dijendela kamar gw. Tak lama setelah gw melempar HP, mereka kembali tertawa dengan suara yang cukup kencang, dan saat itu lah gw ngak bisa lagi naham emosi gw

“WOY BERISIK !!!” Teriak gw dari dalam kamar

Mendengar gw teriak, mereka diam lagi, gw ngak peduli mereka mau ngomong apa dibelakang gw, yang penting gw bisa tenang sedikit.

“Apaan sih Vin teriak-teriak, gw ngantuk banget sumpah, ngak bisa tidur gw semalem” Kata Irfan dengan keadaan masih ngantuk

“Mereka lho fan, enteng banget bisa ketawa-ketawa” Kata gw ke Irfan

“Ya udah sih Vin, cuekin aja, tidur lagi sono” Kata Irfan masih dalam keadaan mengantuk

Mendengat omongan Irfan, gw mencoba tidur lagi, tapi tak lama gw mencoba tidur, ada yang membuka pintu kamar gw

“Kak, hari ini penyuluhan kakak” Kata Selvi sambil menggoyang-goyangkan kaki gw

Dengan kaget gw bangun dari tidur, karena gw lupa kalau hari ini adalah proker penyuluhan gw

“Jam berapa sekarang ?!” Tanya gw dengan agak panik

“Masih pagi kok kak, Cuma ingetin aja kalau hari ini proker kakak” Kata Selvi

“Nih duitnya buat ganti uang pak kades untuk konsumsi” Lanjut Selvi

Gw ambil duit yang disodorkan Selvi dan kembali berbaring, Selvi pamit keluar kamar tapi gw cuekin karena gw ngak bisa mikir jernih, diotak gw hanya ada sipakaian merah dan rencana untuk proker gw

“Fan bangun, temenin gw penyuluhan” Kata gw

“Gw bantu doa aja Vin, sukses ya” Kata Irfan

“Eh tai!!, giliran gw minta tolong loe gini ye ?” Kata gw sedikit emosi

“Ayo cepat bangun, kita mandi biar ngak ngantuk” Kata sambil menendan-nendang Irfan

Dengan berat hati irfan bangun dari tidurnya dan bersiap pergi mandi, saat keluar kamar gw sama irfan melewati anton dan kawan-kawan, mereka menyapa gw dan irfan, hanya irfan yang membalas sapaan mereka dengan senyuman kecil, kalau gw tetap fokus lihat depan. Entah kenapa gw benar-benar ngak suka melihat mereka tertawa seperti itu, dimana tadi malam gw harus bertahan dari gangguan si merah. Dikamar mandi gw dan irfan membahas tentang kejadian tadi malam

“Menurutmu salah apa lagi kita fan ?” Tanya gw dengan keadaan ngantuk

“Mana gw tahu Vin, nanti abis proker kita ketempat bapak “pintar” itu aja” Kata Irfan

“Kita harus bertahan paling ngak sampai proker individu kita selesai” Lanjut Irfan

“Setelah itu kita ke kota, sambil selesai nunggu KKN mereka selesai” Lanjut Irfan lagi

“Loe bawa duit berapa fan ?” Tanya gw

“Cash gw ada 7 jutaan lah, duit gw di ATM dan dari bokap total 40 jutaan, kalau loe ?” Tanya Irfan balik

“cash gw ada 10 juta Fan, sertifikasi nyokap dikasih ke gw semua, di ATM 13 jutaan” Jawab gw

“Nanti masalah lo*te sama nyewa mobil biar gw aja pas dikota” Kata Irfan

“Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian” Kata Irfan nyengir ke gw

“Terus mereka perlu dikasih tahu tentang desa ini?” Tanya gw

“Jangan, ntar aja waktu kita say goodbye ke mereka” Jawb Irfan masih nyengir ke gw

“Palingan Vina sama Eni udah cerita ke mereka” Kata gw

“Ya itu urusan mereka aja Vin” Kata Irfan sambil mengguyur badannya

“Eh Fan, gw ada pertanyaan nih” Kata gw

“Apaan ?” Tanya Irfan

“Kenapa hanya gw, loe sama Eni yang diganggu makhluk halus, kenapa yang lain masih damai tentram ?

“Gw juga ngak ngerti, tapi hebat loe ngak teriak tadi malam”

“Gw sama sekali ngak ada kepikiran buat teriak fan”

“Kalau gw sih kepikiran, tapi kalau gw teriak, nanti malah jadi heboh yang lain” Kata Irfan

“Gw malah kepikiran kabur, tapi kalau dipikir lagi, mau kabur kemana ?”

“Ke Desa ?, Desanya aja kalau malam kayak kota mati, lagian jarak antara rumah juga agak jauh”

“Gw ngak yakin ada yang mau keluar buat bantu kita” Lanjut Irfan

Setelah beberapa obrolan, kita lanjutkan mandi, bedanya hari itu ngak ada perasaan was was sama sekali. Setelah selesai, gw dan irfan berjalan menuju rumah, gw bisa melihat batu yang ditaruh sesajen, batu itu ngak ada uniknya sama sekali, hanya bongkahan batu sama seperti batu-batu yang lain. Sampai dirumah, anton dan kawan-kawan masih becanda dan tertawa, gw pun akhirnya menyindir

“Wah enak ya, masih bisa ketawa-ketawa” Sindir gw sambil tersenyum ke mereka

Mereka diam sejenak, Irfan menyubit pinggang gw karena gw menyindir mereka, tapi gw cuekin aja

“Kak, itu sarapannya disana” Kata Siska menunjuk 2 piring dan 2 teh di gelas

“Waduh, makasih ya adekku Siska, dah silahkan dilanjutin ketawanya” Sindir gw lagi dengan tersenyum

Gw berjalan menuju kamar gw untuk ganti baju, gw sempat mendengar mereka tertawa pelan, gw yakin kalau mereka lagi membicarakan gw, tapi mah bodo amat, udah ngak ada niat gw buat ngelindungi si cewek-cewek, gw lebih mentingin diri gw sendiri dan Irfan. Setelah selesai ganti baju yang lumayan rapi, gw pergi sarapan dengan Irfan diteras, karena malas ikut menggosip bareng mereka. Hari itu gw bener-bener sensi banget. Tak lama setelah selesai sarapan, irfan pamit untuk membantu proker gw

“Gw sama Alvin pergi ke penyuluhannya Alvin dulu ya” Pamit Irfan ke mereka

“Saya ikut kak, saya bantu” Kata Eni menawarkan diri

“Saya juga ikut kak” Kata Siska ikut menawarkan diri

Selama KKN ini, gw memang lebih sedikit mengenal mereka, tapi yang “Cukup” akrab hanya dengan Siska dan Eni, kalau untuk Selvi sebenarnya biasa aja, karena memang dia perhatian sama siapa aja, kalau untuk Vina, dari awal memang gw blacklist, dan untuk Giska, ngobrol pun jarang. KKN memang seperti itu, dimana beberapa orang dikumpulkan menjadi 1 untuk memecahkan masalah bersama, dimana terdapat banyak karakter, ada yang sok pemimpin, ada yang sok pintar kasih pendapat, ada yang marah kalau pendapatnya ngak terima, ada juga yang menurut apa aja, yang penting KKN selesai dan lulus dll. Jangan heran kalau KKN bisa menimbulkan kesenjangan sosial diantara peserta KKN. Tapi yang pasti, kalian akan mendengar teman kelompok KKN kalian, saling menjelek-jelekan dibelakang mereka, atau bahkan kalian sendiri yang dijelek-jelekan dibelakang kalian. 

Kita berempat pun berangkat ke tempat penyuluhan gw, dimana penyuluhan akan dilakukan ditempat yang sama dimana pemberantasan buta huruf dilakukan. Penyuluhan gw hanya modal badan dan ilmu gw yang ngak seberapa, sisanya gw menjelaskan melalui papan tulis hitam yang ditemani kapur. Sampai disana, penyuluhan gw dilakukan secara lesehan, Siska & Eni membantu beres-beres tempat tersebut, dan setelah itu kita bengong sambil menunggu pak kades dan masyarakat datang.

Penyuluhan pun dimulai, gw melakukan penyuluhan apa adanya, mereka ngerti ngak ngerti yang penting proker gw jalan, lagian gw ngak terbiasa berbicara didepan umum, tapi untuk menggombali cewek, gw juaranya. Ditengah-tengah penyuluhan, istri pak kades datang dengan makanan ringan sejenis jajanan pasar seadanya yang ditaruh dipiring dan daun pisang agar bisa dinikmati bersama, tak lupa teh yang jadi teman makan makanan ringan. Eni dan Siska ikut membantu bu kades membagi makanan ringan tersebut.

Penyuluhan gw pun selesai, ternyata banyak juga yang mengerti apa yang gw sampaikan, terbukti dari pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan ke gw. Setelah selesai penyuluhan, para masyarakat sana milih duduk-duduk santai sambil menikmati rokok linting yang diracik sendiri, rasanya keras banget tuh rokok. Dipenyuluhan gw, bapak “pintar” tersebut pun datang ke penyuluhan gw. Gw dan irfan pun mendekati bapak tersebut dan menggiring ketempat yang agak jauh dari lokasi penyuluhan

“Pak, kita mau ngomong, tadi malam kita diganggu makhluk halus” Kata Irfan

“Dia berpakaian merah pak, malah diam dikamar saya tadi malam” Lanjut Irfan

“Oh…. Mungkin dia hanya ingin berteman” Kata Bapak tersebut sambil tersenyum

Gw dengar omongan bapak tersebut, malah menambah sensi gw, rasanya emosi udah ada nyampek ke kepala

“Waduh, maksudnya apa ya ini pak?!” Kata gw agak tinggi

“Itu si merah tinggal di batu dekat rumah yang kalian tempati, biasanya juga ngak ganggu” Kata Bapak tersebut senyum ke gw

“Mungkin gara-gara ada lampu dirumah kalian itu, sama kayak anak kecil, kalau ada sesuatu yang menarik pasti akan didekati” Lanjut bapak tersebut

“Masalahnya, genset itu malah mati hidup mati hidup terus pak” Kata Irfan

“Kalau gitu, si merah ngak suka ada lampu atau listrik disitu” Kata Bapak tersebut

“Jadi intinya jangan ada lampu kalau malam pak?” Tanya Irfan

“Sebaiknya begitu, untuk menghindari hal-hal yang kita tidak mau” Jawab Bapak tersebut

“Pak, kita ini baru seminggu disini, hal-hal kayak gini udah terjadi, malah jadi serba salah!”

“Masa iya, jin pake nunda waktu buat ganggu seseorang?, kalian pingin diganggunya pertengahan KKN kalian ?” Kata bapak tersebut tersenyum lebar

“Lagian kalian kan tamu disini, kalau kalian ngak ganggu mereka, mereka juga ngak mengganggu”

“Memang disini itu ada kerajaan jin, tapi daerah sini masih dibilang agak damai, ketimbang dipusatnya” Lnjut bapak tersebut

“Gini aja pak, bisa bapak yang ngomong ke teman-teman saya agar genset ngak dihidupin malam hari” Kata Irfan

“Agak sungkan kalau saya yang bilang, lagian saya kurang akrab sama mereka”

“Tapi jangan bawa-bawa makhluk halus ya pak, takut jadi heboh nanti”

“Oh boleh, ayo kita kesana sekarang aja, 2 orang temannya ditinggal dulu gpp” Kata Bapak tersebut

Akhirnya gw dan irfan pamit untuk pulang duluan, sampai dirumah, bapak tersebut ngomong ke anton dan kawan-kawan kalau genset jangan dihidupkan dimalam hari, dengan alasan menghormati warga sekitar, jadi kalau mau menghidupkan genset disiang hari ngak masalah. Setelah diomongin bapak tersebut, anton dan kawan-kawan setuju. Tapi namanya anak muda pasti susah untuk nurut, nanti ada part dimana genset kebanting dan terlempar jauh banget karena dihidupkan malam-malam selama 2 hari. Dan bayangan hitam gede sepohon jati tua datang nyamperin kita serumah.

Setelaj obrolan ringan, bapak tersebut ijin pamit untuk pulang, diperjalanan sebelum ke rumah, gw samperin bapak tersebut, dan minta tolong untuk menjamin kalau si merah ngak mengganggu kamar gw dan irfan lagi. Bapak tersebut bilang, kalau si merah udah ngak ganggu lagi, karena dia udah balik ke tempatnya, tapi gw kepikiran, memang balik ke tempatnya, tapi tempatnya itu hanya 30-50 meter dari rumah, dimana mata masih bisa memandang batu tersebut. Dan akhirnya gw utarakan apa yang gw pikirkan, akhirnya bapak tersebut pergi ke batu itu sendirian. Selang beberapa menit bapak itu balik lagi ke gw, dan berkata kalau si merah ngak ganggu kita lagi. Setelah itu beliau pun pamit ke gw. Melihat bapak tersebut pergi, gw dan irfan nongkrong di depan rumah sambil ngerokok. Anton dan putra pamit ke gw dan irfan untuk memulai dan ikut mengawasi proker pembuatan sumur. Tinggal gw, irfan, selvi, vina dan giska dirumah. Gw dan irfan hanya bengong dengan keadaan ngantuk didepan rumah, pikiran gw kayak kosong dengan mata yang berat karena ngantuk

“Loe ngak tidur fan ?” Tanya gw

“Ngak Vin, gw takut ngak bisa tidur malam kalau gw tidur siang” Jawab Irfan

“Sama, buat kopi sana fan” Suruh gw ke Irfan

“Bareng lah tai, loe suruh terus yang bikin kopi”

Dan akhirnya gw dan irfan memutuskan membuat kopi bersama, saat gw berjalan untuk ke dapur membuat kopi, gw lihat Selvi sudah dengan rambut terikat, bibirnya merah banget tanpa lisptik bikin pingin buat nyium, pahanya yang putih terlihat karena pake hotpants, dan baju lengan pendek ketat yang membuat bodynya terlihat terbentuk sempurna, ideal banget buat gw, dimana juga tinggi sehidung gw, benar-benar terlihat sempurna dihari itu, gw pun pergi ke depan selvi

“Eh dek, gw pingin banget tidur sama loe” Kata gw tanpa berpikir dan mulai meninggalkan Selvi

Sebelum gw pergi meninggalkan Selvi, dia hanya diam dan mencoba senyum salting ke teman-temannya, mungkin dia ngak nyangka gw ngomong gitu ke dia. Tak ada suara sama sekali hingga akhirnya Selvi membuka obrolan masalah proker.

Tak lama kopi pun jadi, gw dan irfan pingin menikmati cuaca siang sambil menunggu malam datang. Saat gw melewati Selvi dan kawan-kawan, Selvi sama sekali ngak memandang gw, hanya Vina dan Giska yang memandang gw dengan tatapan heran.

Malam pun datang, hampir kira-kira 6 jam gw habiskan diteras hanya mengobrol hal yang ngak penting, gw takutnya kalau diam nanti malah ketiduran, setelah makan malam yang disiapkan Siska, gw lanjutin ngobrol sambil merokok didepan teras rumah, sambil menunggu paling enggak jam 9 untuk tidur, saat itu Eni dan Siska menghampiri kita, sekarang Eni jarang sama Vina, karena udah ada putra, jadi sekarang lebih sering sama Siska.

“Dek, selama disini kamu ngak pernah lihat hantu ?” Tanya gw

“Ahh kak, udah malam, jangan bicarain kayak gitu ah” Jawab Siska

“Oh belum kalau gitu” Kata gw

“KaaaaK, Setoooooop ngomong hal-hal mistis!” Kata Siska agak tinggi

“Kamu ngak pernah begadang malam dek disini ?” Tanya gw

“Ngak kak, jam 10 udah pules saya kak” Jawab Siska

“Owalah, pantesan, meskipun didatangi juga bakal ngak nyadar karena tidur” Kata gw dalam keadaan ngantuk

“Ah, udah ah, saya nongkrong sama yang lain aja” Kata Siska agak jengkel ke gw

Siska pun pergi meninggalkan kita bertiga hanya karena obrolan masalah hantu, memang malam itu agak mengerikan, karena genset ngak dinyalakan dan menyisakan petromax lagi. Tak lama gw ijin pamit ke kamar untuk mengambil HP yang gw banting, sekalian ngecek rusak apa ngak, ditengah perjalanan ke kamar, lagi-lagi gw lihat Vina dan Putra buat ulah, mereka berciuman didepan teman-temannya yang lain, gw saat itu agak emosi tapi gw tahan, dan entah kenapa melihat momen itu, gw arahkan pandangan gw ke Selvi, melihat gw memandang dia, Selvi langsung nunduk untuk melihat HP nya yang sudah penuh baterai karena dicas siang hari. Setelah ambil HP, gw kembali ke tempat irfan dan Eni nongkrong, Ditengah perjalanan kembali ke tempat Irfan, gw masih lihat Vina dan Putra masih ciuman. Gw sensi banget saat itu, bener-bener ngak risih sama teman-temannya,

“Eh, sekalian ngent*d disitu aja, gw pantengin!” Kata gw agak tinggi

Mendengar hal itu Putra berdiri dan teriak ke gw

“JAGA TUH MULUT YA!!” Teriak putra ke gw

“LOE KALAU MAU MESUM DIKAMAR SONO, JANGAN DISINI” Balas teriak gw

Setelah gw balas teriak, putra mengambil buku yang tebalnya minta ampun dan melempar ke arah gw, saat itu kena tangan gw karena reflek buat nangkis. Melihat gw dilempar, Irfan langsung lari kearah putra dan menendang Putra sampai terjatuh, melihat putra jatuh, Irfan tak segan-segan menendang-nendang Putra. Seluruh ruangan panik saat itu, Selvi sampai nutup mulut dengan tangannya melihat kejadian itu, Vina kaget dan hampir nangis, gw lihat anton mendekati Irfan, gw pikir dia mau balas dendam karena putra ditendang, tapi ternyata anton datang melerai. 

“AYO NJING, LANJUT DILUAR” Teriak Irfan sambil nunjuk-nunjuk Putra 

“DISINDIR DENGAN MAKSUD BAIK MALAH NGELONJAK” Teriak Irfan Lagi

Putra sama sekali ngak membalas teriakan Irfan, dia hanya sibuk memegangi bagian yang sakit karena ditendang Irfan, dan sudah pasti itu kepala, Irfan kalau berantem pasti incer kepala, dari dulu kalau gw berantem sama Irfan, tak pernah sekalipun gw menang, tapi meskipun gw kalah, gw ngak pernah nunjukin kalau gw takut sama Irfan.

“Udah kak udah” Kata Vina ke Irfan

Selvi datang menghampiri Irfan, tak lama putra bangun dari posisi jatuhnya, melihat hal itu Irfan berjalan ke putra sambil menggenggam tangannya dan ekpresi marahnya. Melihat hal itu juga, Selvi langsung memeluk erat Irfan dari depan

“Kak, sabar kak Irfan, jangan gitu” Kata Selvi

“Minggir dek!” Kata Irfan agak tinggi ke Selvi

Irfan berusaha berjalan meskipun dipeluk Selvi, dan semakin erat pula pelukan Selvi ke Irfan, karena takut Irfan menghajar putra lagi. 

“Kak kak, ayo udah kak, jangan dilanjutin” Kata Selvi khawatir

Mendengar omongan Selvi, Irfan berhenti sebentar, melihat Irfan agak tenang, Selvi melepas pelukannya ke Irfan, Setelah itu Irfan berjalan kearah gw sambil tersenyum. WTF..!!, ternyata itu akal-akalan irfan biar dipeluk Selvi. Gw lupa kalau irfan bisa ngontrol emosi, dimana dia harus emosi, kapan dia harus berhenti emosi. Irfan mengajak gw nongkrong diluar buat merokok, putra diajak anton kekamar yang ditemani oleh Vina, dan sisanya pergi ikut nongkrong didepan teras bareng gw dan irfan. Untuk mengganti suasana, gw yang buka topic

“Fan, kalau gw yang mesum sama Selvi didepan loe gimana?” Tanya gw

“Gw langsung teriak”Ikut dong viiiiiiinn”” Kata Irfan sambil menirukan gaya waria berlari

Langsung pecah ketawa diteras saat itu, Selvi hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Ekspresi mereka yang ketakutan melihat Irfan marah, berubah mejadi senyum yang hangat. Tak lama Putra keluar kamar dan meminta maaf ke gw dan Irfan, dan kita berdua pun memaafkan meskipun hati kurang berkenan. Setelah maaf-maafan, kita semua pamit tidur semua, lagian jam juga menunjukan waktu untuk tidur. Dikamar saat gw pingin nutup jendela, tak ada si merah berkeliaran lagi, gw berpikir bapak “pintar” tersebut hebat banget. Irfan juga mengecek ruangan lain seperti dapur, dan juga ke teras untuk melihat batu, tapi sama sekali tak ada si merah. Dan malam itu kita bisa tidur agak nyenyak karena sebelum tidur kita membicarakan Selvi dan juga dadanya yang telah menempel didada irfan, dan 1 kata yang terucap dari mulut gw, “gw iri”. Meskipun malam itu gw agak nyenyak, tapi besoknya penghuni “rumah hantu” menunjukan sosoknya ke gw, irfan dan Siska.. hanya "menunjukkan", bukan mengganggu, dan emang 100% itu kesalahan kita bertiga sampe "rumah hantu" menunjukkan sosoknya.

0 Response to "[Cerita Horor] KKN Berhantu Part 8"