[Cerita Horor] KKN Berhantu Part 9

KKN Berhantu Part 9

Yang belum baca cerita awalnya bisa baca di

Hari / Malam – 9

Hari ke 9, gw terbangun agak pagi kira-kira jam 7an, mungkin karena semalam gw tidur agak nyenyak. Gw lihat ke arah samping, dan irfan sudah ngak ada disamping gw, gw keluar kamar untuk cuci muka, diruang tengah Irfan sudah sedang mengobrol dan bercanda dengan para wanita kecuali Vina, anton dan putra ngak ada bareng yang lain diruang tengah, gw berpikir mungkin mereka masih tidur.

“Baru bangun loe Vin ?” Sapa Irfan tersenyum ke gw

“Halah, gayamu Fan, biasanya juga jam segini loe masih tidur” Kata gw sambil pergi ke dapur

Irfan tak membalas omongan gw, setelah cuci muka, gw pergi ambil teh dan sarapan yang sudah disiapkan Siska diruang tengah, setelah itu gw pergi ke teras untuk makan dan dilanjutkan dengan merokok setelah membalas sapaan dari mereka. Rokok 1 slop yang dilempar ke arah si merah ngak pernah kita ambil lagi, dan masih dibiarkan tergeletak di tanah disamping kamar gw, lagipula rokok yang dilempar bukan rokok punya gw. Waktu pertama ke kota, gw dan irfan beli rokok 20 slop, dimana 10 slop rokok marlboro kesukaan irfan, dan rokok sampurna kesukaan gw. Memang sayang rokok 1 slop dibuang begitu saja, tapi mungkin irfan ngak niat ambil, kalau gw terlalu parno untuk ambil rokok tersebut, takutnya nanti jadi rasa tanah, atau jadi rasa lumpur, nanti kalau ngerokok itu malah kesurupan dll.

Tak lama Irfan nyamperin gw

“Rencana loe apa hari ini Vin?” Tanya Irfan

“Bertahan hidup” Kata gw simpel

Entah kenapa mood gw hari itu jelek banget, di desa ini, mood gw gampang banget barubah-ubah, kadang pun komitmen juga berubah, seperti bakal ngelindungi para wanita. kalau udah ketemu dedemit, gw ngak pernah mikir buat selametin yang lain, yang penting gw selamat. Tapi kalau disiang hari dan melihat mereka, kadang ada rasa untuk melindungi mereka.

“Ya udah kalau gitu gw nemui yang mau buatin bak sampah sama yang lain ya ?” Kata Irfan

“Ya dah sana Fan, gw mau nyantai sambil mikir proker individu gw yang ke 2”

“Habis itu gw mau cabut dari sini, sekalian loe pikir proker individu loe” Lanjut gw sambil menghisap rokok

“Santai aja Vin, rencana gw juga mau buat penyuluhan juga, jadi setelah bak selesai, gw cari tema penyuluhan gw” Kata Irfan

“Nah bagus tuh, biar ngak lama-lama kita disini, paling ngak seminggu lagi kita udah cabut dari sini” Kata gw

Kita berdua pun melanjutkan obrolan sambil menunggu agak siang untuk Irfan pergi ketempat orang yang akan membuatkan bak sampah. Tak lama waktu yang ditunggu datang, irfan pergi masuk kerumah untuk mengajak salah satu wanita buat nemenin dia, dan akhirnya terpilihlah Siska. Mereka berdua pamit ke gw untuk pergi ke desa. 

Saat itu gw bener-bener ngak tahu mau ngapain, karena memang KKN membosankan, kadang gw membayangkan KKN tanpa para wanita itu dan hanya ada laki-laki, wah benar-benar darurat, dimana gw harus deg-degan di malam hari dan bertemu pria disiang hari, lengkap sudah derita. Tak lama setelah itu gw bakar rokok lagi dan bersiap berkeliling desa sendiri, terbesit dipikiran gw untuk mencari lokasi-lokasi sesajen didesa ini, lagian ini desa, bukan hutan, sebelum pulang ke rumah gw bakal nemui si bapak pintar tersebut untuk ngecek apakah gw sedang diikuti apa tidak, dan itu lah yang ada dipikiran gw. Setelah berpikir lama, akhirnya gw mutusin untuk nyari tempat-tempat sesajen didesa, lagian ngak ada irfan, jadi gw bisa lebih hati-hati dan ngak berulah kayak irfan. 

Hampir kira-kira 1 jam gw keliling desa buat nyari lokasi, sebenarnya ngak full 1 jam, karena gw banyak istirahatnya daripada nyarinya, tapi nihil, ngak ada 1 tempat pun yang ada sesajen, bisa dikatakan hari itu gw juga ngak teliti nyarinya, karena memang agak ragu untuk teliti mencari sesajen. Dan sampai lah dimana gw ketemu irfan dan Siska dipinggir sungai, jelas banget seperti orang lagi lagi pacaran dan mojok sambil menikmati keindahan sungai.

Gw samperin mereka

“Malah mojok disini ya” Kata gw menyindir

“Orang yang mau kita temui lagi pergi ke kota, disuruh balik nanti sore” Kata Irfan menepis sindiran gw

“Terus mojok ?” Kata melanjutkan sindiran

“Enggak kak, lagian ngak ada kerjaan juga kan” Jawab Siska

“Ngomong-ngomong kamu ngak ngerjain proker dek?” Tanya gw ke Siska

“Baru buat proposalnya kak, nanti konsultasi ke pak kades” Jawab Siska

“Oh, bagus deh, biar cepat selesai terus tinggal main-main” Kata gw

“Contoh kak Alvin tuh, rajin orangnya kalau masalah proker” Kata Irfan senyum ke gw

Gw tahu banget maksud dari kata-kata Irfan, dimana dia menyindir gw karena gw cepat-cepat mikirin proker untuk cepat pergi dari sini.

“Bener dek, contoh gw” Kata gw agak emosi sambil nendang punggung Irfan pelan

Setelah beberapa obrolan gw nongkrong bareng mereka dipinggir sungai, selama disana, mata gw tertuju ke arah sendang, dimana sendang tersebut menurut gw cukup indah dan menarik, tapi yang gw heran, kenapa mesti sendang yang jadi tempat tinggal jin. Tak terasa waktu hampir siang, Siska mengajak kita berdua balik ke rumah, karena katanya dia mau siap-siap masak, saat itu Irfan menolak dan milih keliling desa, sedangkan gw milih ikut Siska untuk pulang. Diperjalanan gw bahas tentang putra dan Vina

“Kamu ngak risih lihat putra sama Vina mesum dek?” Tanya gw

“Bisa dibilang udah biasa kak, kalau dulu emang risih banget” Jawab Siska

“Emang mereka sering mesum didepan kalian?” Tanya gw dengan penasaran

“Sering tuh dirumahnya putra, putra kan tajir tuh kak, jadi punya rumah sendiri tanpa orang tua” Jawab Sika

“Wah murahan emang ya si Vina” Kata gw

“Hussh, jangan ngomong gitu tentang cewek kak” Kata Siska mencubit pelan pinggang gw

Sampailah kita dirumah setelah beberapa obrolan tentang Vina dan putra, Anton dan kawan-kawan sedang asik ngobrol diruang tengah sambil bahas proker, gw milih masuk kamar dan bersiap untuk tidur siang, baru aja gw hampir tidur tapi irfan masuk kamar gw

“Ngak jadi keliling desa loe?” Tanya gw

“Udah ngak mood Vin, mending istirahat” Jawab Irfan

“Eh Vin, mending kita diluar aja deh dari pada tiduran” Lanjut Irfan

“Emang napa?” Tanya gw

“Ntar kalau kita ngak bisa tidur malam gimana?” Tanya Irfan

Mendengar Irfan ngomong seperti itu , gw bangun dari posisi tidur gw dan pergi ke dapur untuk minta dibuatkan kopi oleh Siska, Setelah itu kita ngobrol diteras sambil menunggu kopi datang, banyak obrolan ngak penting yang kita lakukan diteras. Tak lama Anton dan putra pamit pergi membantu proker pembuatan sumurnya

Sore pun datang, Irfan ngajak gw dan Siska untuk nemui orang yang bisa membuat bak sampah, sampai dirumah si orang itu, ternyata beliau belum balik, jadi kita mutusin untuk pergi ketempak pak kades untuk bahas masalah proker Siska. Saat itu hanya Siska yang masuk, gw dan Irfan milih nunggu diluar sambil ngerokok, konsultasi masalah proker ke pak kades termasuk cukup lama, kenapa?, karena banyak basa basinya untuk ngobrol, pernah gw sampai mengira kalau pak kades benar-benar kesepian. Dan benar, lebih dari 1 jam hanya untuk konsultasi masalah proker. Tak lama setelah selesai konsultasi, kita pergi ke tempat orang yang bisa membuat bak sampah, dan ternyata belum pulang juga, mau ngak mau kita harus nunggu, sebenarnya irfan ngajak untuk pulang dan didiskusikan besok, tapi gw menolak, gw pingin semua proses proker berjalan dengan cepat, menunda satu hari, sama aja menambah waktu gw didesa ini.

Dan akhirnya datang juga orang dimaksud walau jam 7 malam sudah datang menyapa. Irfan berkonsultasi mengenai bak sampah yang akan dibuat untuk warga sini, bapak tersebut menjelaskan dan menunjukan dengan rinci mengenai bahan untuk membuat bak sampah tersebut, serta biaya yang harus dikeluarin masih sama 1,2 juta dengan total jumlah 40 bak sampah.

Data dari pak kades ada 52 rumah didesa, tapi kenapa hanya membuat 40 bak sampah?. Kenapa? Ada apa ?. Apa karena mereka yang 12 sudah punya bak sampah?. Tidak, Apa mereka menolak kita memberi bak sampah?, Tidak, Apa rumah tersebut kosong, Tidak. Semua akan terkuak dipart-part selanjutnya

Kita pun ijin pamit untuk pulang kerumah, ditengah jalan Siska bernyanyi untuk menghibur diri, mungkin karena dia takut, Irfan pun ikut bernyanyi, waktu didepan rumah hantu, Siska agak ketakutan, melihat hal itu, Irfan menggoda Siska sambil menarik-narik badan Siska menuju rumah hantu, mungkin kesal karena digoda Irfan, Siska masuk ke pekarangan rumah dan berdiri ditangga menuju pintu rumah

“Apa-apaan sih loe dek?!, jangan sok berani” Kata gw agak tinggi tapi berbisik

“Habis kak Irfan narik-narik kak, bikin jengkel aja” Kata Siska sambil berjalan ke arah gw dan Irfan

“Loe juga fan, pake acara godain Siska, udah tahu desa ini kayak gimana” Kata gw masih agak tinggi

“Emang kenapa sama desa ini kak?” Tanya Siska dengan penasaran

Gw maklum kalau dia bertanya seperti itu, karena belum tahu apa-apa, karena gw agak emosi, gw pingin jelasin tentang desa ini, tapi telat. Ada orang menunjukkan dirinya dari jendela rumah hantu, terlihat jelas dari pantulan cahaya bulan, melihat hal itu, gw langsung berpikir itu jin yang nunggu situ. Dan dugaan gw benar saat orang tersebut tersenyum ke arah gw, setelah tersenyum tiba-tiba kepalanya terjatuh dengan sendirinya. Sontak dengan cepat gw lari meninggalkan mereka, gw udah malas mikir buat nunggu mereka. Dengan nafas berat akhirnya gw sampai dirumah, Irfan dan Siska belum muncul sama sekali, sambil nunggu mereka, gw memandang ke arah batu apakah ada si merah, dan ternyata tidak ada. Mereka yang pada asik diruang tengah hanya heran melihat gw seperti orang yang khawatir mondar mandir. Tak lama Irfan datang sambil menggendong Siska yang pingsan, melihat hal itu mereka keluar untuk melihat keadaan Siska. Irfan pun mengantar Siska ke kamarnya yang ditemani oleh para wanita lainnya, saat itu gw pergi ngajak Irfan ke halaman rumah untuk ngobrol

“Nah!! lihat sendirikan loe ?!” Kata gw dengan tinggi

“Omongan loe yang bilang jangan macam-macam disini, mana??!!” Lanjut gw

“Gw juga ngak nyangka bakal kayak gini” Kata Irfan

“Mereka disini terlalu sensitif njing, Jadi jangan terlalu berulah”

“Ngak tahu dah apa sekarang dia lagi dibelakang loe, buat ngikutin!!” Kata gw

“Kagak Vin, dia masih didalam rumah waktu gw ama siska pergi” Kata Irfan

“Terserah loe deh Fan, malas lama-lama kalau kayak gini gw” Kata gw pergi meninggalkan Irfan ke kamar

Diperjalan ke kamar, Selvi bertanya ke gw

“Ada apa kak sama Siska?” Tanya Selvi panik

“Besok loe tanya Siska aja” Kata gw dengan sinis ke Selvi

Tangan gw dipegang Selvi

“Cerita aja kak, jangan pake emosi gini” Kata Selvi

“Gw males cerita, besok aja loe tanya si Siska ada apa” Kata gw sambil melepas tangan Selvi

Gw masuk kamar dan membanting pintu kamar agar tertutup, gw berusaha dengan tenang tanpa mikir kejadian tadi, Irfan nyusul ke kamar, tapi ngak ada sepatah katapun keluar dari mulut kita berdua, hingga akhirnya hari itu gw benar-benar ketiduran. Siska sama sekali ngak terbangun dimalam hari, karena ngak ada suara tangisan atau teriakan dari kamar sebelah yang bisa membuat gw terbangun dimalam hari.

0 Response to "[Cerita Horor] KKN Berhantu Part 9"